-->

Iklan

gudnyus
21 Maret 2019, 06:47 WIB
Last Updated 2020-06-20T06:50:55Z
InsightOpini

Mungkinkah PPP Beralih ke Prabowo-Sandi?

Advertisement


Gudnyus.id - Setelah Ketua Umum PPP, Romahurmuziy, di-OTT KPK, tanpa banyak perdebatan PPP langsung tancap gas. PPP seperti tak peduli dengan apa kata orang. Bully, dijorokin, simpati, semua diterima dengan lapang dada. Tak ada usaha melawan, membantah, atas apa yang sudah terjadi, terhadap siapa saja, apalagi terhadap publik. Semua "ditelan" sebagai kenyataan pahit.

Romahurmuziy (Romi) sesungguhnya tokoh penting dalam pemecah PPP. Ia memecat Suryadharma Ali, saat bermasalah dengan KPK. Padahal Suryadharma Ali adalah mentor politiknya. Tanpa Suryadharma Ali, ia mungkin bukan siapa-siapa.

Tapi ia menusuk mentornya itu tepat di jantungnya, saat mentornya itu justru sedang terpuruk dan tamat. Ia tiba-tiba berbelok ke pemerintahan untuk mencari dukungan yang lebih kuat dan harus diakui, ia berhasil dan terlihat mengkilat.

Tapi, politik terlalu cepat berubah. Romi menerima apa yang dilakukannya secara tunai. Betul-betul lunas. Ia terjatuh persis di tempat ia menusuk Suryadharma Ali. Malah ia jatuh lebih keras karena sedang berada di tempat tertinggi.

Rasa-rasa, tak akan ada orang yang bisa menjamahnya. Nyatanya, ia terhempas dan tak ada yang percaya termasuk dirinya sendiri. Ini terlihat dari penampilannya saat digelandang KPK. Senyumnya yang biasa lebar, langsung kuncup seperti bunga putri malu. Gaya masih, tapi tinggal sisa-sisa.

Kini, bola ada pada PPP. Romi seperti Suryadharma Ali sudah tamat. Efeknya masih akan terus berpengaruh, apalagi kalau kasusnya menjalar ke tempat yang lebih tinggi. Misalnya, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, ikut terseret.

Maka, gelombang efeknya semakin membesar. Karena itu, PPP harus segera menghentikan "pendarahan" kasus Romi ini, agar tak menjalar ke mana-mana. Apalagi, publik semakin berani mengungkap "kebobrokan" Romi, termasuk Kementerian yang digawangi kader PPP itu.

Belakangan, PPP terlihat bagus merespon kasus yang meninpa Ketua Umumnya ini. Selain karena pukulan ini terlalu berat menjelang pemilu 17 April, PPP terlihat dingin dan tak panik. Langsung memberhentikan sementara Romi dan menunjuk Pelaksana Tugas (Plt). Setelah itu, langsung pula menggelar Murkernas untuk memilih Ketua Umum yang definitif. Sampai di sini, sudah berada di jalur yang benar.

Agar lebih progresif, PPP harus mencari Ketua Umum yang lebih segar dan progresif pula. Dan segera ubah dukungan dari Jokowi-Ma'ruf ke Prabowo-Sandi. Memang, de jure sudah tak bisa. Tapi, de facto-nya akan besar pengaruhnya dan tak masalah juga kan? Semua "fasilitas" kan sudah dirasakan, diambil Romi dan koleganya.

Kini, saatnya, mengubah arah angin demi penyelamatan partai. Kalau begitu-begitu saja, tak ada yang baru, tak hanya Romi yang tamat, dikhawatirkan juga PPP itu sendiri.

Toh, tak ada lagi yang "dicari" bersama Jokowi-Ma'ruf? Elektabilitas segitu-gitu saja. Siapa tahu umat akan bersimpati dan kembali mengucapkan "ahlan wa sahlan" kepada PPP. Anggap saja ini balik kandang, balik ke rumah sendiri.

Oleh:
Erizal Sastra