Iklan

gudnyus
5 Mei 2019, 07:41 WIB
Last Updated 2019-05-05T00:45:02Z
Insight

5 Sebab Kegagalan Starbucks di Australia

Advertisement

Gudnyus.id - Memang sudah jadwalnya antara hari Rabu atau Kamis, saya pindah tempat kerja
Saya kerja di Cafe daerah Jakarta Timur, cuma 30 Menit dari rumah

Karena seminggu sekali ke cafe ini, Managernya pun sudah kenal saya. Kita sering ngobrol, kadang bahas F&B, kadang Property, apapun deh asal berkaitan dengan Bisnis. Beliau ini sudah belasan tahun di bidang F&B

Siang tadi beliau tanya
“Bro, kenapa gak nongkrongnya di Starbucks ?”

Kebetulan selisih 50 Meter ada Starbucks. Dan sebenarnya, di dekat rumah saya juga ada Starbucks Rawamangun, cuma 5 Menit naik motor

Lalu saya jawab :
“Dulu pernah beberapa kali kerja di Starbucks, cukup nyaman tapi entah kenapa gak cocok aja kalau seharian disana”

Soalnya saya kalau di Cafe dari Siang sampai Cafe ini tutup sekitar jam 10an. Jadi saya mencari tempat senyaman mungkin untuk kerja dan berkonsep.

Tapi saya jadi penasaran atas ketidak cocokan saya terhadap Starbucks dan lebih memilih ngopi di Cafe lokal. Setelah ngobrol dengan beliau, saya balik ke meja saya lalu membuka YouTube untuk mencari tahu tentang Starbucks

Dan hasil teratas yang keluar adalah pembahasan CNBC tentang gagalnya Starbucks di Australia
“WHY STARBUCKS FAILED IN AUSTRALIA”. Langsung saya simak videonya sampai habis.

Lalu dari video tersebut saya bisa menyimpulkan mengapa sekelas Starbucks bisa gagal di Australia
Alasannya adalah :

1. Starbucks Tidak Merubah Model Bisnis
Pemikirannya ketika membuka Starbucks di Australia adalah, Jika Starbucks sukses di USA, maka dengan cara yang sama akan berhasil juga di Australia yang sama sama menggunakan bahasa Inggris juga

Memang sih ketika kita ingin menggarap market yang berbeda, kita harus menganalisa terlebih dahulu, gak bisa asal copas aja. Harus Test n Review. Karena pasti akan ada ketidaksamaan dengan market yang sebelumnya

2. Pertumbuhan Terlalu Cepat

Opening di Sydney pada tahun 2000, mereka langsung menganggap bahwa mereka berhasil. Dan langsung membuka banyak cabang hingga memiliki 87 Cabang pada tahun 2008.

Ekspansi secara massif dan tidak organik. Alih alih bukanya untung, malah rugi mencapai 105 Juta Dollar pada 7 tahun pertamanya berbisnis di Australia. Mengapa bisa terjadi ?
  • Customer tidak merasakan produk yang tersedia terbatas
  • Merasa Starbucks terlalu mudah didapat
  • Starbucks ada dimana mana maka dari itu Customer tidak perlu khawatir tidak bisa ngopi di Starbucks.
  • Dan itu membuat Customer tidak ada urgensi untuk ngopi di Starbucks
Pada akhirnya meminjam 54 Juta Dollar pada Starbucks USA

3. Tidak Berorientasi Pada MarketMayoritas penduduk Australia tidak suka kopi yang manis seperti kopi-kopi yang banyak ditemui di Starbucks.

Mirip dengan Italia yang memiliki Capucino sebagai kopi lokal andalan, Australia sebenarnya punya Long Black dan Macchiato sebagai kopi lokal andalan.

Namun Starbucks tidak menyediakan menu kopi tersebut karena mereka hanya menyediakan apa yang disediakan pusat dan itu berlaku secara Internasional. Menu yang disediakan di Australia sama dengan menu yang disediakan di USA

Customer yang mencari kopi lokal seperti Long Black ataupun Macchiato pada akhirnya akan kembali ke kedai kopi lokal dibanding Starbucks.

4. Lingkungan Yang Diciptakan Kurang Tepat
Penduduk Australia lebih memilih kedai kopi lokal karena suasananya hangat, tidak terlalu besar, sudah saling mengenal dengan si Barista.

Karena suasananya hangat, mungkin seperti ngopi di teras rumah sendiri kali ya? Jadi mereka tiap hari ngopi di tempat yang sama untuk mendapatkan suasana yang hangat itu. Dan Starbucks tidak bisa menciptakan suasana tersebut

5. Kekuatan Pemain Lokal

Tidak hanya bidang Cafe, bidang bidang lainpun pemain lokal di Australia lebih kuat dibanding pemain Asing yang masuk dan ekspansi di Australia. Mungkin karena sudah tau pasti apa yang penduduk butuhkan dan inginkan.

Ditambah lagi oleh keuntungan pemain lokal yang lebih gesit, jadi semua yang dibutuhkan bisa terpenuhi dengan cepat. Itu yang membuat pemain Asing cukup sulit untuk mengambil market share dari pemain lokal.

Pemain lokal Australia juga menganggap Starbucks menilai kopi tak lebih dari sekedar komoditas, sekedar produk. Padahal bagi penduduk Australia, Cafe lebih dari sekedar itu.

Cafe adalah tempat yang nyaman untuk menciptakan kehangatan ketika berbincang satu sama lain dan melepas kepenatan urusan pekerjaan. Itu yang tidak dilihat oleh Cafe Asing.

Kesuksesan Cafe USA Lainnya di Australia
Beberapa alasan di atas membuat Starbucks yang memiliki 87 Cabang di 2008, harus tutup 30% Cabangnya hingga sisa 26 Cabang saja. Di tahun yang sama, Starbucks di USA tutup hingga 600 Cabangnya karena Krisis global waktu itu

Namun ada 1 Brand Asing dari USA yang bisa mendominasi Australia, yaitu GLORIA JEAN’S COFFEE. Akhir 2018 Gloria Jean’s memiliki lebih dari 400 Cabang di Australia. Melayani 35 Juta penduduk Australia tiap tahunnya.

Lalu apa rahasianya hingga ia bisa merebut pasar Australia? Rahasianya adalah : MENU.

Gloria Jean’s mengadopsi menu menu kopi lokal Australia, serta menyediakan budaya kopi yang selaras dengan budaya kopi Australia. Ini yang tidak dilakukan oleh Starbucks yang hanya menyediakan menu yang sama dengan Starbucks secara global.

Pada akhirnya tahun 2014 Starbucks di Australia dibeli oleh Mount Waverley Group dan mengubah target marketnya. Mereka mengincar Turis asing yang berlibur disana, serta Mahasiswa luar negeri.

Starbucks fokus untuk membuka cabang di Mall besar dan tempat tempat turis berada dan akhirnya bisa bertahan sampai sekarang. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sini.

Jika ingin mengambil market baru, maka kita harus menyesuaikan dengan budaya yang ada, kebiasaan yang ada, yang sudah tercipta sejak lama

Kalau kita tidak mau melakukan adjustment dengan market yang baru, maka sudah dipastikan kamu akan kalah dengan pra pemain lama disana

Karena dalam bisnis, uangnya di Market. Maka kita harus menyediakan apa yang Market inginkan Market Oriented

Jika bermanfaat, silakan SHARE

Ditulis oleh : Decka Kevin Williant
Business Development Director Inspira Group