-->

sponsor

sponsor
gudnyus
28 Agustus 2019, 11:30 WIB
Last Updated 2020-06-19T17:47:24Z
InfografisInsight

INFOGRAFIS: Mengenal Blockchain, Sistem Baru Di BP Batam

Advertisement

Gudnyus.id – Batam melalui BP (Badan Pengusahaan) melakukan gebrakan baru dengan menerapkan sistem Blockchain pada berbagai sektor mulai dari sistem pemerintahan, kesehatan, hingga sistem Investasi, dengan tujuan menghubungkan para pakar dan pemain teknologi blockchain global dengan para pemimpin bisnis Indonesia. Batam dirasa sudah siap menerima teknologi ini degan harapan sumber daya manusia kita dapat bersaing dan memberikan inovasi.

Apa itu Blockchain? Blockchain adalah sistem pencatatan transaksi di banyak database yang tersebar luas di banyak komputer, yang masing-masing memuat catatan yang identikal. Sistem ini disebut juga dengan istilah distributed ledger. Dengan catatan transaksi yang ter-desentralisasi ini, maka hampir tidak mungkin untuk di-hack atau dirubah secara sepihak, tanpa mengubah jumlah mayoritas dari semua database tersebut.

Sistem Blockchain adalah sistem yang tidak menggunakan pihak ketiga . Intinya adalah catatan transaksi yang sudah terjadi, disimpan oleh banyak komputer yang tersebar di jaringan itu sendiri. Jadi akan lebih susah untuk men-hack sistem ratusan atau ribuan komputer, dan kemungkinannya kecil untuk semua komputer itu mengalami gangguan di waktu yang sama. Ini menurut pengertiannya.

Blockchain yang fungsinya hampir sama dengan sistem perizinan terpadu, Online Single Submission (OSS), maka proses submit dokumen antar divisi di Batam akan berlangsung cepat, praktis dan efisien.

Untuk pertama kalinya Blockchain akan dimulai dengan hal Peningkatan pelayan pada masyarakat. Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RS BP) Batam, Kepulauan Riau bersama dClinic International, Deloitte South East serta JP Consulting melakukan kesepakatan terkait pengembangan teknologi berbasis blokchain dengan nama "Public Healthcare Blokchain (PHB)".

Teknologi ini memungkinkan pihak rumah sakit untuk menyimpan catatan atau rekam medis seorang pasien dengan lebih akurat sehingga setiap institusi kesehatan bisa saling terhubung.

Dengan demikian, RS BP Batam nantinya dapat mengetahui rekam medis seorang pasien saat dirawat di rumah sakit lain atau sebaliknya. Selain itu, blokchain juga dapat melakukan monitor pemberian resep obat, mendesain rencana pengobatan dan menciptakan pasar penelitian medis yang lebih terbuka.

Berikut merupakan kelebihan dan kekurangan dari sistem Blockchain:

Kelebihan
1. Terdistribusi
Data blockchain disimpan dalam ribuan perangkat node jaringan yang tersebar, sistem dan datanya sangat kuat terhadap masalah teknis dan cyber attact. Setiap node jaringan bisa mereplika dan menyimpan sebuah salinan database, akan hal ini tidak ada titik lemah untuk kegagalan sebuah node menjadi offline dan mengganggu yang lain dalam jaringan. Banyak database konvensional sangat bergantung kepada sebuah atau beberapa server yang bersifat sangat rentan terhadap kegagalan teknis dan serangan cyber.

2. Stabilita
sBlok yang terkonfirmasi tidak mungkin untuk diputarbalikkan, ini berarti jika sebuah data sudah dimasukkan ke dalam blockchain, sangatlah susah untuk menghilangkan atau merubahnya. Ini membuat blockchain sebuah teknologi yang sangat baik untuk menyimpan riwayat finansial atau data lain dimana jejak audit dibutuhkan dikarenakan setiap perubahan dapat terlacak dan secara permanen disimpan dalam sebuah buku kas terdistribusi dan publik.

Sebagai contoh, sebuah bisnis dapat menggunakan teknologi blockchain untuk mencegah tindakan penipuan dari karyawan. Dalam skenario ini, blockchain dapat menyediakan sebuah riwayat untuk semua transaksi finansial yang aman dan stabil yang terjadi dalam perusahaan itu. Ini membuat sangat sulit untuk karyawan untuk menyembunyikan transaksi mencurigakan.

3. Sistem tanpa asas percaya
Dalam kebanyakan sistem pembayaran tradisional, transaksi tidak hanya bergantung dengan kedua pihak yang bertransaksi, akan tetapi juga kepada pihak ketiga - seperti bank, perusahaan kartu kredit, atau penyedia layanan. Pada saat menggunakan teknologi blockchain, ini tidak lagi diperlukan, dikarenakan jaringan nose tersebar memverifikasi transaksi tersebut melalui sebuah proses yang dikenal sebagai penambangan. Dikarenakan alasan ini, blockchain sering disebut sebagai sebuah sistem “tanpa asas percaya”.

Maka dari itu, sistem blockchain menghilangkan resiko untuk mempercayai sebuah organisasi dan juga mengurangi biaya secara keseluruhan dan biaya transaksi dengan meniadakan orang tengah dan pihak ketiga.

Kelemahan
1. Serangan 51%
Algiritma Konsensus Proof of Work yang melindungi blockchain Bitcoin sudah terbukti sangat efisien dalam beberapa tahun terakhir ini. Akan tetapi, ada beberapa potensi serangan yang dapat menyerang jaringan blockchain, dan serangan 51% adalah salah satunya. Serangan seperti ini dapat terjadi jika sebuah entitas berhasil mengontrol lebih dari 50% tenaga hash jaringan, yang mengizinkan mereka untuk mengacau jaringan dengan sengaja mengeluarkan atau memodifikasi urutan transaksi.

Walaupun secara teoritis adalah mungkin, tidak pernah ada serangan 51% yang berhasil menyerang blockchain Bitcoin. Dikarenakan seiring bertambah besarnya jaringan, bertambah besar pula keamanannya, dan hampir tidak mungkin ada penambang yang akan menginvestasikan sejumlah uang dan sumber daya yang besar untuk menyerang Bitcoin dikarenakan penambang yang jujur dapat menerima upah yang lebih baik.

Terlebih lagi, sebuah serangan 51% yang berhasil hanya dapat memodifikasi beberapa transaksi terbaru untuk sebuah jangka waktu yang sangat singkat, dikarenakan blok-blok tersebut terhubung dengan bukti cryptography (merubah blok berumur membutuhkan sebuah tenaga komputasi yang tak terhingga). Dan juga, blockchain Bitcoin sangat tahan dan dapat secara cepat meresponi serangan.

2. Modifikasi DataSatu kelemahan lagi dari sistem blockchain adalah setelah data ditambahkan ke dalam blockchain, sangatlah sulit untuk merubahnya. Walaupun stabilitas adalah salah satu kelebihan dari blockchain, ini tidaklah selalu baik. Merubah data atau kode blockchain biasanya sangat menuntut dan seringkali membutuhkan sebuah hard fork, dimana satu rantai ditinggalkan, dan beralih menggunakan rantai yang baru.

3. Kunci PribadiBlockchain menggunakan cryptography public-key (kunci publik) atau asimetrik untuk memberikan pengguna sebuah kepemilikan dari unit mata uang digital (atau data blockchain lainnya). Setiap akun blockchain (atau alamat) memiliki dua buah kunci yang sesuai: sebuah kunci publik (yang dapat dibagikan) dan sebuah kunci pribadi (harus dirahasiakan).

Pengguna membutuhkan kunci pribadi untuk mengakses dana mereka, yang berarti bahwa mereka berlaku sebagai bank mereka sendiri. Jika seorang pengguna kehilangan kunci pribadi mereka, secara otomatis uang tersebut hilang, dan tidak ada yang dapat melakukan apa-apa mengenai hal itu.

4. Inefisiensi
Blockchain, terutama yang menggunakan Proof of Work, sangatlah tidak efisien. Dikarenakan penambangan sangatlah kompetitif dan hanya ada satu pemenang setiap sepuluh menitnya, pekerjaan setiap penambang lainnya akan menjadi sia-sia.

Penambang akan selalu mencoba untuk meningkatkan tenaga komputasi mereka, sehingga mereka dapat mendapatkan peluang uang lebih besar untuk menemukan sebuah hash blok yang valid, sumber daya yang digunakan oleh jaringan Bitcoin telah meningkat secara pesat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, dan sekarang ini mengkonsumsi lebih banyak energi dibandingkan dengan banyak negara seperti Denmark, Irlandia, dan Nigeria.

5. Penyimpanan
Buku kas blockchain dapat berkembang menjadi sangat besar. Blockchain Bitcoin sekarang ini membutuhkan sekitar 200GB tempat penyimpanan. Rasio perkembangan ukuran blockchain terlihat seperti lebih cepat dibandingkan perkembangan harddisk dan jaringan meresikokan kehilangan node jika buku kas menjadi terlalu besar untuk seorang individu mengunduh dan menyimpannya.

Kesimpulan
Diluar kelemahan-kelemahan tersebut, teknologi blockchain memberikan banyak sekali kelebihan yang untuk, dan blockchain ada untuk tetap ada. Kami masih memiliki jalan yang panjang untuk adopsi masal, akan tetapi banyak industri sudah mulai mencicipi kelebihan dan kekurangan dari sistem blockchain.

Beberapa tahun ke depan akan memperlihatkan bisnis dan badan pemerintahan bereksperimen dengan pengaplikasian baru untuk menemukan dimana teknologi blockchain menambahkan nilai paling banyak.