Iklan

gudnyus
24 September 2019, 21:30 WIB
Last Updated 2019-09-24T16:26:16Z
Puisi

Kumpulan Puisi Karya Yoseph Felix Rahardjo [Bagian 1]

Advertisement

Jampi-Jampi 

 Tujuh keping kembang
Tiga sayap parenjak
Sekantung awan sakit
Diretas lereng gunung
Sepokok dahan lirih
Pinggir kayu layu
Empat kristal syahdu
Mengkabut temu
Puah !
rindu jadi Kau !
Kasihku

(Batam, 10/04,19)


Renggut

Nona, hari sudah malam
Pulanglah, jasadmu mengantuk.

(Batam, 19/05,19)



Percaya

Percayakah engkau
Akan adanya burung di pepohonan
Meski sebatas kicau ?

Percayakah engkau
Akan adanya angin di sekeliling
Meski sebatas desir ?

Percayakah engkau
Akan hadirnya aku di malam ini
Meski sebatas doa ?

(Batam 20/05,19)



Penciptaan

Jauh di dalam kemah kudus-Nya
Tuhan bekerja mencipta manusia
dengan bentuk
yang segambar dan serupa dengan-Nya

Yang pertama itu disebut laki-laki
ditempatkan-Nya di Firdaus, sehari-hari.

Namun Tuhan mengerti,
tidak baik manusia itu dibiar sendiri
maka direnggut-Nya tulang rusuk satu
lalu bagai pualam intan
dijadikan-Nya lah perempuan

(Batam 24/05,19)



Nyanyian Merdu

Kita adalah burung-burung gereja
yang dipelihara-Nya di langit-langit mezbah
yang makan dari hutan belakang biara.

Kita adalah burung-burung gereja
yang dikasihi-Nya melebihi keelokan rupa 
yang telah hidup oleh karena kasih karunia.

(Batam, 27/06,19)



Permulaan Doa

Bagai dihajar angin sepi
lelaki itu blingsatan,
lindap ditelan tenungnya sendiri

Setelah redam, lelaki itu beringsut
meski jantung masih tak keruan,
dentum bagai genderang serdadu.

Tak kuat menanggung begitu lama
maka diciptanya secarik patah doa :
“Tuhan, kami ingin bersama”

(Batam, 29/06,19)



Gereja St. Fransiskus Asisi

Di ujung jalanan yang rengkah
dan berdebu
berdiri sebuah gereja berbatu pagar,
pagar bagai tembok perlindungan

Di dalamnya,
hanya ada sunyi yang meringkuk,
dan jiwa yang bersekutu
bersama kenang dan angan-angan.

(Batam, 21/07,19)



Kedagingan

Tubuhmu yang pulang
terbujur di meja makan
hidangan telah matang
daging yang tambun

Didaraskannya doa
dengan hati yang suwung,

“Tuan, jangan Kau hadir ke perjamuan”

(Batam, 26/08,19)



Pejantan

Gadis-gadis berpredikat manja
dan tidak berdaya
bergelantungan di lengan-lengan kuatnya
termakan manisan dan buaian

”Tuan !” hardiknya,
“Tanganmu menjamah dadaku”

(Batam, 05/09,19)



Storge

Gerimis dihantarkan pagi
Bunda yang penuh kasih
bangkit tinggalkan tilam
wajahnya yang berembun
larut dalam rebusan air susu

Kepada kanak-kanak
yang berhamburan di pekarangan
Sang Bunda lirih menyambut,

Apabila tandus musimnya,
kembalilah menelusuk ke punca botol kaca”

(Batam, 08/09,19)



Burung dalam Sangkar

Burung dara warna jelaga
yang kau pelihara saban hari
telah terbang keluar sangkar
maka disapanya langit yang candala
fajar pertama penuh bunga.

Berpegang pada kelepaknya,
Ia terjang penghujung hari
maka telah jauh ia pergi
ke arah timur, ya, tempat ia menuai umur,
sejenak,
sebelum burit mengubur pekat.

(Batam 08/09,19)



Karya: 
Yoseph Felix Rahardjo 
(IG: @yos.felix)