Iklan

gudnyus
15 September 2019, 08:25 WIB
Last Updated 2019-09-15T01:26:27Z
Wow

Terasa Perih, Siklus Perasaan itu Berakhir dengan Kalimat: Jalani Aja Dulu

Advertisement

Gudnyus.id - Setiap perjalanan pasti harus ada yang memimpin. Yah... barangkali itu adalah pesan yang tepat untuk menggambarkan sebuah novel singkat yang sedang terjadi saat ini. Entah bagaimana sebuah kedekatan ini justru melahirkan rangkaian cerita baru yang berujung pada ketidakpastian di tengah-tengah persimpangan.

Mungkin benar kita beriringan, namun kenapa harus dibatasi oleh pembatas jalan? bukankah kita bisa saling bergandengan sampai ke tujuan. Bagaimana justru kita malah bertemu persimpangan? Apa kau juga masih ingin beriringan dengan ku? Atau yang terburuk justru kita akan bertemu jurang. Mana yang akan kau pilih?

Begitulah apa berbagai pertanyaan yang ada di kepala pria kecil itu yang sampai saat ini belum menemukan jawaban konkret dari cerita yang sepertinya akan menemui titik pemberhentian.

Tidak banyak yang bisa dilakukannya, tatkala dia yang harusnya menjadi pemimpin sebuah perjalanan dipaksa untuk menjadi kuda tunggangan yang bisa diberhentikan kapan saja.

Ketidaksengajaan itu muncul pria kecil itu hadir di tengah-tengah keperihan perempuan yang saat ini ‘dekat’ dengannya. Sebuah obrolan singkat awalnya, berubah menjadi berbagi pengalaman serta kejadian yang masing-masing memahami tidak mudah jika dilewati jika mereka bertukar posisi.

Benar adanya dengan ‘siklus perasaan’, dimana sayang dan cinta itu muncul dari kata ‘tahu, mengenal, tertarik, suka, nyaman, terbiasa, dan muncullah sayang dan cinta’ itu. Namun pada akhirnya sayang dan cinta itu tidak bisa semena-mena dieksekusi tanpa pertimbangan serta memikirkan risiko yang bakal terjadi, atau bisa jadi ini hanya nafsu belaka yang muncul akibat kekosongan hati akibat tersakiti sebelumnya.

Obrolan itu kini berlanjut pada malam itu. Keduanya bertemua ditempat yang sederhana, tanpa sebuah persiapan, tanpa undangan khusus, tanpa harus berdandan layaknya tuan putri dan pangeran hendak bertemu. Hati yang menggerakkan keduanya untuk bertemu.

Keduanya saling menatap seakan tak percaya bahwa mereka bertemu saat malam itu. Mungkin saling tersipu malu, namun menutupinya dengan ekpresi datar. Dengan hati yang begitu senang, senyum kecil teraut di bibir keduanya, serta jantung bedegub begitu kencang ketika tatapan itu diarahkan dari mata ke mata.

Tatapan itu, senyumanmu, aroma parfummu, serta malam itu, merupakan penawar dari letih dan lelahnya setelah keseharian dibantai untuk mengerjakan tugas yang hari-hari dilakoni.

Cerita mulai mengarah ke rasa. Kejujuran itu sepertinya mungkin titik awal dari penasaran yang selama ini dipertanyakan. Rasa senang, gugup dan tak karuan itu melebur jadi satu diringi senyum tipis di bibir yang tak terlihat. Seketika semua terlihat hening, mungkin terlarut suasana.

Keheningan itu begitu nyaman dirasakan keduanya. Seolah tak ingin merusak momen itu, keduanya memilih bungkam dan saling menatap. Membiarkan hati dan malam berbicara, sambil menerka kalimat apa yang keluar dari lisan. Malam itu pun berlalu. Keduanya pulang dan membiarkan cerita yang baru saja mereka rangkai begitu saja, tanpa menambahkan atau mengurangi.

Sepenuhnya, malam itu memunculkan cerita dari sisi lain yang menjadi sebuah luka bagi keduanya. Si pria kecil yang buta berusaha untuk memimpin tanpa pengalaman, dan si perempuan yang menjadi kuat akibat perih yang dialami dan tak ingin salah lagi menjatuhkan hati.

Seketika si pria kecil kecil tersadar, perempuan  itu tidak boleh menjatuhkan hatinya. Setiap jatuh itu pasti sakit, termasuk ‘jatuh cinta’. Kata ‘jatuh’ harus dihilangkan agar kejadian menyayat hati itu tak terulang kembali.

Namun sepertinya hal itu sulit dihapuskan. Larut dalam sebuah kediaman yang kunjung menemukan jawaban, justru menggiring keduanya pada rasa sakit ditengah persimpangan, lanjut atau berhenti.

Malam itu mungkin awal dan akhir dari sebuah cerita dari novel singkat yang ditulis tanpa judul, tanpa editor, dan tanpa cetakan yang bisa dibaca ulang. Malam untuk pertama kali bertemu, dan malam terakhir berpisah tanpa ucapan perpisahan.

Komunikasi mulai menemukan titik renggangnya. Obrolan kecil yang biasa menjadi moodbooster kini sepertinya mulai terasa biasa saja. Ketidakpastian ini membuat keduanya kini saling menyibukkan diri dengan pekerjaan dan hobinya agar tidak terlarut dalam kesedihan yang tak tahu kapan berakhirnya. 

Keduanya saling memahami rasa sakit yang dialami, namun keduanya memilih bungkam. Kalimat “kita jalani aja dulu kedepannya” atau “jalani aja dulu” dan kalimat setara lainnya justru malah memunculkan perih yang baru.

Seolah berjalan tanpa tujuan, tanpa harapan, dan  tanpa kepastian. Bukan si pria kecil itu tak mau mengambil keputusan, bukan si perempuan tak membuka hati, namun jika salah satu pihak hanya menginginkan sebuah perjalanan, apakah itu bisa dipaksakan mengikuti rute si pemimpin perjalanan yang kali ini dipimpin oleh si pria kecil itu. Beriringan tanpa bergandengan bersama. Perih!

Mungkin benar, logika itu masih ada, mungkin benar melupakan itu akan lebih cepat dilakukan, mungkin benar mendiamkan itu bisa dilakukan. Tapi apakah itu jalan keluar serta penutup dari novel singkat ini? Apakah hilang begitu saja? Justru akan memunculkan luka baru.

“Sejujurnya aku benci dengan cara menatapku. Tapi cuma ini yang bisa ku berikan padamu pada malam itu. Kau sudah sampai di titik ini. Aku yakn tidak mudah menjadi dirimu. Jika kau menuliskan dan menuangkannya dalam sebuah CV atau portofolio akan menghabiskan berlembar-lembar, tidak sebanding dengan puisi dan desain sampah ku”

“Aku sudah melantur kali ini. Aku yaki tidak ada satupun kedekatan yang bertujuan menyakiti, namun kenyataan sepertinya menentang teori itu”

“Ruang dan angkasa sudah menempatkan tugasnya, dimana malam itu kita bertemu dan aku melihat wajahmu. Dan kau disambut oleh raut wajah yang tak setampan kau bayangkan. Raut wajah lesu yang tak bisa ditutupi, namun hati yang berteriak selalu ingin bertemu”

“Lagi jatuhnya aku tidak sesakit dirimu. Buta pengalamanku tak akan bisa menenangkan mu. Ku pikir inilah harus ku akui. Cukuplah aku memikirkanmu, lalu terlelap, bermimpi, dan menikmati kenyataan perih ini”

Aroma parfum itu masih diingat oleh si pria kecil itu, selalu terngiang di tengah-tengah keramaian. Rindu ini hanya jadi rindu yang tak dapat diungkapkan, rasa ini hanya rasa yang tak bisa dieksekusi.

Harapan bertemu untuk kesekian kalinya dan saling bercerita tinggal sebuah angan. Kini keduanya sudah berada dipersimpangan, saling menunggu menunggu keputusan untuk tetap jalan bersama atau berpisah.

Penulis: IR