12 November 2025, 09:30 WIB
Last Updated 2025-11-12T02:30:34Z
Opini

Ayah dan Keterlibatan dalam Pengasuhan Anak

Advertisement


Oleh: Raja Dachroni

Pegiat Keayahan dan Ketua Komunitas Peduli Kampung Sendiri (KPKS) Tanjungpinang

Setiap tanggal 12 November, Indonesia memperingati Hari Ayah Nasional, momen yang seharusnya menjadi refleksi tentang arti kehadiran seorang ayah dalam keluarga. Sayangnya, di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, peran ayah dalam pengasuhan anak sering kali tenggelam di antara kesibukan bekerja, rapat, atau tuntutan karier.

Selama ini, banyak keluarga di Indonesia masih menempatkan ibu sebagai “pengasuh utama”, sementara ayah menjadi “penyedia kebutuhan rumah tangga”. Pola ini bukan hanya tradisi, tetapi juga hasil dari konstruksi sosial yang menempatkan pengasuhan sebagai tugas domestik perempuan. Padahal, riset menunjukkan bahwa kehadiran ayah memiliki dampak besar terhadap tumbuh kembang anak.

Laporan UNICEF dan Badan Pusat Statistik (BPS, 2021) bertajuk Menjadi Orang Tua di Indonesia menemukan bahwa hanya sekitar 11% ayah yang terlibat aktif dalam kegiatan pengasuhan anak sehari-hari — seperti memberi makan, bermain, atau membantu anak tidur. Sebaliknya, lebih dari 70% ibu melakukan aktivitas itu setiap hari tanpa kehadiran ayah.

Artinya, banyak anak Indonesia tumbuh dengan figur ayah yang lebih sering “hadir sebagai simbol”, bukan sebagai pendamping nyata. Anak-anak berbicara tentang ayah mereka sebagai sosok yang disegani, tetapi tidak selalu dekat secara emosional.

Padahal, menurut riset Harvard Center on the Developing Child (2022), keterlibatan ayah secara aktif terbukti meningkatkan perkembangan sosial-emosional anak, membangun rasa percaya diri, serta memperkuat kemampuan akademik. Anak-anak yang memiliki hubungan hangat dengan ayah juga cenderung lebih resilien menghadapi tekanan sosial dan lebih empatik terhadap orang lain.

Momentum Hari Ayah Nasional seharusnya menjadi ajakan bagi para ayah di seluruh Indonesia untuk hadir kembali bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional karena sesungguhnya, kehadiran seorang ayah bukan diukur hanya dari seberapa besar gajinya, melainkan seberapa besar waktu, perhatian, dan cinta yang ia berikan pada keluarganya.



Mengoptimalkan Peran Ayah

Jika kita jujur, banyak ayah yang merasa perannya dalam pengasuhan anak sudah cukup hanya dengan “bekerja keras dan menyediakan kebutuhan keluarga.” Pandangan ini masih kuat di kalangan masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan dengan pola kerja panjang dan mobilitas tinggi.

Data BPS (2022) menunjukkan, rata-rata waktu interaksi orang tua dengan anak dalam sehari hanya sekitar 1 jam 43 menit, dan kontribusi waktu ayah di dalamnya tidak lebih dari sepertiganya. Dengan kata lain, banyak ayah hanya berbicara dengan anak mereka kurang dari 30 menit per hari.

Studi lainnya bahkan menemukan bahwa lebih dari 70% ayah di Indonesia masih menganggap ibu lebih kompeten dalam urusan anak, sementara mereka merasa cukup dengan peran sebagai “pengambil keputusan”. Padahal, penelitian dari UNICEF dan Plan International (2020) menunjukkan bahwa anak-anak dengan ayah yang aktif terlibat memiliki tingkat empati 30% lebih tinggi dan risiko kenakalan remaja 40% lebih rendah.

Keterlibatan ayah juga memberi manfaat jangka panjang. Studi World Bank (2022) menemukan bahwa anak-anak yang tumbuh dengan dua orang tua yang sama-sama terlibat dalam pengasuhan memiliki peluang 20% lebih besar menyelesaikan pendidikan tinggi, dan 15% lebih tinggi memiliki pekerjaan stabil di usia dewasa.

Sayangnya, minimnya keterlibatan ayah juga disebabkan oleh kurangnya literasi pengasuhan bagi laki-laki. Pelatihan parenting di sekolah atau komunitas masih didominasi oleh ibu. Sementara itu, media pun jarang menampilkan figur ayah yang lembut, penyabar, dan hangat. Ayah masih sering digambarkan sebagai sosok kaku, pendiam, dan hanya muncul di akhir pekan.

Padahal, menjadi ayah bukan hanya soal memberi nafkah, tetapi juga menjadi teladan kehidupan. Dari seorang ayah, anak belajar arti tanggung jawab, keberanian, dan kesabaran. Dari cara ayah memperlakukan pasangannya, anak belajar bagaimana menghargai dan mencintai orang lain.

Refleksi Bagi Kita

Kehadiran ayah bukan sekadar membantu ibu, tetapi meneguhkan keseimbangan dalam keluarga. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang dari dua figur orang tua yang sama-sama terlibat akan memiliki fondasi emosi yang jauh lebih kuat untuk menghadapi dunia.

Momentum Hari Ayah Nasional 12 November 2025 ini bukan sekadar hari peringatan, melainkan ajakan untuk perubahan budaya pengasuhan di Indonesia. Kita perlu membangun kesadaran baru bahwa ayah bukan hanya pelengkap, melainkan fondasi penting dalam pembentukan karakter anak.

Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA, 2023) menunjukkan bahwa lebih dari 50% kasus kenakalan remaja dan kekerasan anak terjadi pada keluarga dengan minim kehadiran ayah. Artinya, ketidakhadiran ayah bukan hanya berdampak pada psikologis anak, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kondisi sosial masyarakat.

Karena itu, dukungan sistemik sangat penting. Dunia kerja perlu lebih ramah keluarga dengan memberi cuti ayah (paternity leave) yang layak dan fleksibilitas waktu agar ayah bisa berpartisipasi dalam masa awal tumbuh kembang anak. Sekolah juga perlu melibatkan ayah dalam program parenting, bukan hanya mengundang ibu saat rapat atau acara sekolah.

Komunitas dan media pun bisa berperan dengan menghadirkan figur ayah yang positif  ayah yang bisa memasak, mendongeng, mengantar anak ke sekolah, dan tetap menjadi panutan. Representasi ini akan membantu menormalkan peran ayah yang aktif dan penuh kasih.

Menjadi ayah yang baik bukan berarti sempurna, tetapi berani hadir. Anak-anak tidak membutuhkan ayah yang kaya atau serba bisa  mereka hanya butuh ayah yang mau mendengarkan, bermain, dan memeluk tanpa tergesa.

Sebagaimana pepatah mengatakan, “Seorang ayah tidak hanya memberikan nama, tetapi juga arah.” Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita rayakan bukan dengan ucapan atau hadiah, tetapi dengan kehadiran yang nyata karena bangsa yang kuat lahir dari ibu yang tangguh dan ayah yang hadir sepenuh hati.