gudnyus
21 Agustus 2019, 12:11 WIB
Last Updated 2019-08-21T05:11:54Z
Insight

Media Sosial, Senjata Baru Provokator Mengadu Domba

Advertisement

Gudnyus.id – Tepat pada 17 Agustus 2019 kemarin Ibu pertiwi menginjak usianya yang ke - 74 dihitung dari kita merdeka 17 Agustus 1945. Namun lihatlah Ibu pertiwi kini tidak Bahagia. Bahkan semakin menderita melihat anak anaknya saling bertengkar, saling serang dan saling tuduh. Seolah perpecahan semakin hari semakin kuat dibumi pertiwi.

Benar apa yang dikatakan Proklamator kita pada kala itu, “bangsa kita kedepannya akan menghadapi masalah yang besar dan berat, lebih berat dari melawan dan mengusir penjajah dimana bangsa kita akan melawan bangsanya sendiri, di adu domba bangsanya sendiri, dan mungkin dihancurkan bagsanya sendiri”.

Kita ambil contoh dari permasalahan yang sedang hangat yaitu Ustad Abdul somad dilaporkan ke polisi atas kasus isi ceramahnya tiga tahun lalu. Padahal, ia hanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan jamaah di dalam ruangan mengenai salib.

Dari hal ini kita perlu pahami mendalam jangan terbawa atau termakan dari berita yang beredar. Apalagi membanding-bandingkan dengan kasus ahok dua tahun silam. Coba kita telaah, konteks yang ahok sampaikan itu di muka publik, sedangkan ustad Abdul Somad itu konteksnya berbicara tidak di muka publik. Ia menjelaskan hanya untuk sesama pemeluk keyakinan beragama yang sama.

Dan lihatlah kejadian yang terjadi di Jawa Timur (Malang dan Surabaya), siapa yang patut dipersalahkan dan siapa yang menyalahkan. Begitu banyak kabar yang tersiar, begitu heboh berita yang tersebar, kita yang jauh dari tempat kejadian tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.

Apakah mahasiswa Papua yang bertindak tidak baik?? Apakah Aparat yang yang bertindak seenaknya?? Dan Apakah ormas yang bertindak main hakim sendiri?? Siapa yang harus disalahkan dan siapa yang harus bertanggung jawab??

Lihat setelah kejadian itu banyak reaksi yang dilontarkan, terutama bagi mereka yang berasal dari Papua, melihat saudara-saudara mereka diperlakukan seperti itu dan disebut secara rasis!!!

Mereka tidak tinggal diam, mereka marah dan akhirnya lihat apa yang terjadi, Papua bergejolak mereka menuntuk keadilan dan kesetaraan, mereka ingin diperlakukan seperti manusia, bukan seperti hewan, mereka ingin diperlakukan seperti orang Indonesia lainnya.

Di Papua, kantor pemerintahan dan tempat tinggal masyarakat pendatang dilempari, dibakar, dihancurkan bagaimana perasaan kalian melihat saudara saudara kalian diperlakukan seperti itu, Sakit bukan.

Ditambah lagi disana belum redanya perseteruan antara Indonesia dengan OPM (Organisasi Papua Merdeka), belum usai itu muncul lagi gerakan di Makasar. Hal yang serupa juga mereka suarakan. Sampai kapan kita terus seperti ini?

Kalau bukan dari diri kita sendiri siapa lagi yang akan meredakan semua ini, siapa lagi yang akan menjaga keutuhan dan kedaulatan Indonesia. Inilah masanya kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air di uji. Dibutuhkan jiwa besar agar gejolak meredam, seperti disampaikan Presiden Joko Widodo, saling memaafkan.

"Teruntuk saudara-saudaraku, Pace, Mace, mamak-mamak di Papua, di Papua Barat. Saya tahu ada ketersinggungan. Oleh sebab itu, sebagai saudara sebangsa dan setanah air yang paling baik adalah saling memaafkan. Emosi itu boleh, tetapi memaafkan itu lebih baik. Sabar itu juga lebih baik. Dan yakinlah bahwa pemerintah akan terus menjaga kehormatan dan kesejahteraan saudara-saudaraku, Pace, Mace, mamak-mamak yang ada di Papua dan di Papua Barat. Terima kasih."

Bagi kita yang jauh, jangan cepat terpancing oleh berita yang tersebar. Ada baiknya mencerna dengan baik setiap informasi yang diterima sebelum meneruskannya ke orang lain. Semua informasi yang  tersebar melalui media, baik sosial media maupun aplikasi percakapan yang kita terima belum tentu benar dan sesuai dengan apa yang terjadi.

Apakah kalian bernah berfikir mengapa informasi yang kita terima belum tentu benar dan sesuai dengan apa yang terjadi ? dan apakah kalian pernah merasa berita yang tersebar satu sama lain tidak beda jauh. Dan apakah ada sesuatu dibalik semua ini.

Sebagai bangsa yang terdiri dari banyaknya gugusan pulau dan beragam macam suku bangsa, akan sulit untuk kita dapat menyatukan isi kepala dalam satu kesatuan tapi itulah negeri kita. Bersatu dalam Bhineka Tunggal Ika. Banyak pihak luar yang iri akan keharmonisan beragaman suku bangsa kita. Tak heran bila banyak pihak yang ingin memancing di air keruh. Memantik emosi untuk memecah belah bangsa kita yang dari dulu terkenal akan toleransinya yang begitu tinggi.

Hadirnya sosial media menjadi senjata baru bagi para pemantik itu. Mereka menyebarkan provokasi dengan berita-berita yang dibuat tanpa kita ketahui kebenarannya. Dengan begitu mudahnya, tanpa disadari kita menjadi agen-agen mereka untuk memecah belah bangsa kita sendiri. Karena jangan-jangan kita mengambil andil untuk membagikan berita maupun info itu ke sekitar kita.

Bijaklah dalam menggunakan sosial media dan bijaklah dalam membagikan informasi. Jangan sampai kita menjadi korban pengadu domba itu, apalagi jadi pelaku utamanya.

Foto: freepik.com