-->

Iklan

4 November 2019, 15:08 WIB
Last Updated 2020-06-20T06:47:34Z
InsightOpini

Jangan Sombong, Sampaikanlah Kebaikan Tanpa Membodohi

Advertisement

Gudnyus.id - “Bila everything happen for a reason, ingin rasanya kutanyakan pada Tuhan, apa alasan Dia menciptakan manusia yang satu ini”- Buku Manager Gabener

Tentang satu-satunya jenis makhluk yang diberi akal, gairah serta nafsu yang komplit dalam satu paket raga,  dapat memimpin klasemen di atas makhluk cahaya, namun bisa juga menjadi keset kaki si api. Terkadang dia (kita) ini tidak kunjung sadar diri, sudahlah di usir, masih juga berlagak layaknya pemilik semesta.

Tentang kehidupan fana, kita berlomba-lomba menjadi pemuncak, bahkan tak jarang saling menyikut hingga membuat yang lain cidera parah, hati patah, dan tak tentu arah. Membabi buta menyerang lawan dan kawan demi kedudukan yang sesungguh tak lama bertahan. 

Bahkan sampai saat ini pun masih ada yang menyekutukan-Nya hanya untuk lembaran dan kepingan emas dan bongkahan intan.

 Banyak memang yang bisa menyadarkan diri ini sesungguhnya tak punya apa-apa, tapi keras kepala, pengalaman pahit maupun manis, lingkungan bermain, serta literasi yang dimiliki hanya untuk alat pembanding, bahwa aku lebih baik. 

Padahal, semua ilmu pengetahuan yang mengalir dan beredar disekeliling harus bermuara ke Pencipta, kali ini pepatah padi berlaku, semakin berisi, semakin menunduk, bukan semaking kosong semakin bangga.

“Aku ya seperti ini, kalau suka ya syukur, kalau tidak ya sudah, tinggalkan” tidak salah pernyataan ini dikeluarkan lantaran mendengar omongan yang menyudutkan serta menyayat hati, tapi kalau subtansinya dalam sebuah lingkup nasihat, ada baiknya jangan dikeluarkan. Ini justru menghukum dia yang berusaha menasihati kita yang sudah mengeluarkan kelembutan serta ketulusan hati.

 Lagi, karena Dia memberikan kita nafsu, kita malah menyalahgunakannya untuk menghardik sesama ciptaanNya. Akal dikalahkan dengan mudah tanpa perlawanan, kemudian nafsu-nafsu itu berubah menjadi energi yang berpanutan ke arah negatif. Dasar manusia!

Dalam keadaan telanjang dan hanya membawa jasad, kita memiliki ambisi besar di dunia ini. “Semuanya harus ku miliki” dan lupa dengan misi menyampaikan kebaikan apapun itu bentuknya. Seperti yang di bilang di awal tadi, kita bisa menyaingi malaikat, dan bisa menjadi hina layaknya  pijakan iblis.

“Dia kan tuhan ciptakan memang untuk mengabdi kepada-Nya, wajar saja kalau surga jaminannya” Iya benar, tidak salah kalau kamu beranggapan seperti itu.

“Lah, siapa suruh di sombong, Tuhan kan nyuruh dia sujud di hadapan Manusia pertama, tapi dia membangkang. Katanya dirinya lah yang lebih baik. Pantas saja Tuhan mengusirnya dari tempat yang diidamkan oleh seluruh makhluk” Ini juga benar, kan sudah jelas dia makhluk terkutuk.

Seperti yang ku bilang tadi, kita ini sudah komplit satu paket yang berisi, akal, perasan yang dan nafsu yang dibungkus dalam raga sehingga peran kedua makhluk di atas bisa kita mainkan, bisa lebih baik atau bahkan lebih hina. Ingatkan aku sekali lagi, bukankah kita ini wakil-Nya? Yang menyampaikan kepada yang lain tentang eksistensinya yang menyeru kepada kebaikan dan menjauhi larangan.

Sebuah kebaikan harus disampaikan melalui sebuah media. Media yang dimaksud kali ini adalah cara. Bisa jadi, sebuah kebaikan yang ditunjukkan seseorang, belum tentu bisa ditiru untuk kita pakai, jadi, pahami tentang menyampaikan ini. 

Kita tidak punya hak untuk menggurui yang lain, sekali pun yang ditemui adalah orang yang lebih bodoh. Tapi ingat, tidak ada orang yang bodoh. Kita tidak ditugaskan memberi label.

Aku berpuisi dihadapan mu Tuhan
Demi menyampaikan bahwa engkau ada dan tiada dua
Bahwa engkau menyeru kami kepada kebaikan
Dengan berbagai cara kami sampaikan
Agar kami menyadari tugas kami di dunia ini
Tuhan, seraya kami berdo’a  jauhi sifat sombong ini

Sumber Foto : freepik.com