-->

Iklan

4 November 2019, 15:01 WIB
Last Updated 2019-11-04T08:01:17Z
Insight

Menuju Keruntuhan Imperium Amerika Serikat - Bagian 1

Advertisement

Gudnyus.id - Sebuah teori sejarah menyatakan, bahwa perjalanan sejarah itu melingkar (circular). Artinya, segala peristiwa mengalami masa timbul dan tenggelam, tenggelam dan timbul lagi dengan keadaannya yang baru seiring perkembangan zaman.

Begitu juga halnya dengan kepemimpinan Amerika Serikat di panggung dunia sekarang ini tidak akan bisa terus bertahan, sampai pada titik waktu tertentu AS akan tenggelam untk digantikan kepemimpinan lama dalam keadaannya yang baru. Tanda-tanda bakal tenggelamnya atau runtuhnya Imperium AS itu kini sudah tampak.

Tanda-Tanda Keruntuhan Amerika Serikat
Amerika Serikat sebagai negara yang besar pengaruhnya adalah kenyataan. Rentang pengaruh dan kepentingannya terbentang dari belahan bumi bagian barat ke timur dan dari utara ke selatan. Kebutuhan kepentingannya beragam mulai dari kepentingan mendapatkan dukungan moral dan sokongan infrastruktur dari Eropa, menjaga prestise simboliknya di kawasan sabuk hitam Afrika.

Selain itu Amerika juga ingin mengendalikan dinamika politik dan menguasai sumber minyak dan sumber alam lainnya di berbagai kawasan dunia, khususnya Timur Tengah, memuluskan pemasaran produk-produk manufakturnya di pasar Asia, hingga kepentingan mengamankan perusahaan-perusahaan multinasionalnya di Amerika Latin.

Ternyata AS tidak mampu menjamin keamanan semua kepentingannya itu. Buktinya, para pengambil  kepeutusan di Washington tiba-tiba mendapati kenyataan galau bahwa keseluruhan kepentingan dan ambisi global AS saat ini ternyata telah begitu jauh melampaui kemampuannya untuk menjaga secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Yudi Latif, dosen Universitas Paramadina, mengidentifikasi luluhnya poros-poros ketegangan membawa krisis makna dalam politik internasional berupa pudarnya basis ideologis, kepemimpinan, dan tujuan berdirinya fakta-fakta pertahanan. Tiba-tiba, banyak negara kehilangan prinsip dasar yang menyatukan proyek kolektif. Dasar tradisional seperti agama dan nasionalisme etnik lalu menjadi alternatif, tetapi masih belum mampu menunjukkan keampuhannya sebagai ideologi politik antarbangsa.

Hilangnya kerangka makna itu membuat banyak negara kehilangan pemipinan (timon) dan kehilangan tujuan (telos) yang membimbing arah bersama. Seperti kata Zaki Laidi, profesor dari Institute d'Etudes Politiques, untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Barat, negara-negara itu kehilangan sentralitas. "We ara well and truly without a timon and deprived of a telos".

Tanda-tanda ke arah berakhirnya persatuan kolektif berbasis ideologis itu mulai tampak dari keikisruhan di tubuh NATO. Penolakan Prancis, Jerman, dan Belgia sebagai pemasok utama keuangan NATO untuk mendukung serangan militer AS terhadap Irak memberi indikasi pudarnya relevansi kepemimpinan AS dalam percaturan politik global.

Dalam hal itu, globalisasi yang semula diharapkan dapat merekat pengaruh AS secara global, kini telah membawa logika baru ke dalam politik internasional. Di balik ambisi planetaris globalisasi itu, terletak impian teritorial dan penaklukan secara simbolik. Globalisasi menjungkirbalikkan impian tadi, paling tidak karena tiga alasan.

Pertama, peran negara dalam mendifusikan proses politik, sosial, dan ekonomi menjadi kurang penting. Akibatnya, ambisi suatu negara untuk membawa suatu risalah bagi negara lain secara perlahan-perlahan menjadi pudar. Suatu teknologi yang berasal dari AS, misalnya, kini tidak lagi memiliki makna ke-Amerika-an.

Kedua, dari akselerasi proses difusi yang begitu cepat, akhirnya aktor-aktor politik hanya membentuk, menyalurkan, dan memengaruhi proses tadi, tetapi tidak mampu melawan. Kehadiran dan kekuatan CNN, misalnya, hanya secara merjinal bergantung pada kekuatan politik AS.

Ketiga, globalisasi sebagai proyek Amerikanisasi yang hadir di mana-mana menjadi suatu sistem yang terlalu besar untuk dikendalikan AS sendiri. Globalisasi atau Amerikanisasi pada hakikatnya adalah, cara, sikap dan tindak kekerasan ala AS yang jauh dari nilai-nilai keadilan dan hanya bertujuan untuk memperbesar kapital dan penguasaan atas sumberdaya ekonomi dunia dunia seperti yang ditunjukkan AS secara sempurna selama ini.

Itulah sebabnya, banyak negara tidak lagi tertarik dengan gagasan globalisasi yang ternyata tidak lebih hanya mengutamakan ambisi sepihak AS belaka. Bahkan kini tak sedikit negara secara terang-terangan menolak proyek globalisasi, dan jumlah mereka dari waktu cenderung meningkat.

Dalam perkembangan lebih lanjut, sebagaimana dipaparkan Yudi, kehadiran globalisasi dan percepatan difusi teknologi antarbangsa terbukti memberikan peluang bagi negara atau aktor-aktor politik non-negara untuk mengembangkan agenda-agenda kekerasan berbasis teknologi tinggi untuk melawan segala bentuk agenda Amerikanisasi.

Kemungkinan itu jika bertemu dengan aksi-aksi predator dan standar ganda  gaya AS dalam politik internasional akan memberi rangsangan bagi suatu arus perlawanan kelompok-kelompok pinggiran (the insurrection of the subjugated power). Jika perlawanan secara terbuka terhadap agen-agen pertahanan AS tidak mungkin ditempuh, kelompok-kelompok itu akan menempuh jalan asymmetric warfare seperti langkah-langkah teroris yang terdesak arus Amerikanisasi.

Merosotnya perekonomian nasional dan melemahnya dukungan internasional telah mendorong AS untuk melakukan operasi militer dengan tujuan mengambil keuntungan ekonomi yang lebih menjanjikan. Dalam jangka panjang, lebih sulit mencari dalih bagi AS menemukan negara seperti Irak untuk diserang.

Namun menarik diri dari ekspos isu internasional menuju isu domestik pun akan menyulitkan para politisi dan kapitalis AS mengingat semakin beratnya masalah domestik yang harus dipecahkan. Dalam hal itu, AS akan mengulangi jebakan yang akan menjeratnya seperti yang dialami Imperium Spanyol pada abad ke-17

Marquis of Monteclaros (1625) pernah berkata, "Kurangnya dukungan keuangan memang merupakan masalah serius bagi Spanyol, tetapi menjaga reputasi internasional Spanyol jauh lebih serius". Tenggelamnya masa kejayaan Spanyol sebagai negara adidaya waktu itu menunjukkan negara-negara superpower jatuh karena kebobrokan yang dibuatnya sendiri dan beban berat yang dipikulnya

Foto: nationalgeograhpic.grid.id