-->

Iklan

Bhama
19 Februari 2020, 18:39 WIB
Last Updated 2020-02-19T11:39:19Z
Insight

Globalisasi Degradasi Nasionalisme dan Kecintaan Budaya Anak Muda

Advertisement

Gudnyus.id - Saat dunia sudah mengalami era globalisasi, kita bisa berhubungan satu dengan yang lain dengan mudah dan sangat menguntungkan. Tetapi dengan adanya globalisasi ini mengakibatkan banyaknya budaya yang masuk dan menyebabkan berbagai masalah di negeri ini, misalnya menurunnya rasa cinta budaya dan nasionalisme generasi muda. 

Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses global itu sendiri. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi memperepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan.

Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memenfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia.

Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara budaya. Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil.

Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain.

Hal ini akan terjadi interaksi antar masyarakat dunia secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antar masyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah, seperti kebudayaan gotong royong, menjeguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan sebagainya. 

Dalam perkembangan globalisasi menimbulkan berbagai masalah dalam bidang kebudayaan, misalnya: hilangnya budaya asli suatu daerah atau suatu negara, terkikisnya rasa cinta budaya dan nasionalisme generasi muda, menurunnya rasa nasionalisme dan patriotisme, hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong, kehilangan kepercayaan diri dan gaya hidup kebarat-baratan. 

Kebudayaan Remaja Zaman Dulu
Pada masa orang tua kita dulu mereka diajari bagaimana bersikap dan bertutur kata. Seperti kebiasaan mencium tangan kepada orang yang lebih tua umurnya. Hal seperti ini sering diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Sampai sekarang pun masih banyak orang tua yang mengajarkan sopan santun, adat istiadat serta tata cara bersikap yang baik. Hal-hal seperti ini akan berdampak positif bagi para remaja, seperti berikut: 
  1. Tumbuhnya rasa hormat terhadap pada orang yang lebih tua dan kepada sesama remaja yang lainnya;
  2. Menjadikan remaja lebih maju dalam berfikir dan dapat bersikap lebih dewasa karena dari kebiasaan menghormati  orang lain maka para remaja bisa bersikap lebih dewasa dalam berfikir;
Kebudayaan Remaja Jaman Sekarang
Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehlangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari anak muda sekarang mulai dari hal kecil hingga hal besar dari yang umum ke private ditambah lagi dengan cara mereka berpikir dan pandang terhadap sesuatu yang suadah ke barat-baratan, yang jelas berbeda dengan norma dan budaya kita.

Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. jika pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya generasi muda bangsa? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkhis antara golongan muda. 

Hubungannya dengan nilai jati diri akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki jati diri.

Seperti contohnya pada kasus kecanduan facebook semakin hari semakin terasa, meskipun para facebookers banyak yang tidak menyadari akan pengaruh negatif facebook ini. Mungkin sudah kecanduan dengan yang namanya facebook. Tapi justru inilah yang berbahaya yang tidak disadari. Dampak negatif dari facebook ini. Karena pengguna facebook di dominasi oleh para remaja usia 14-24 tahun sebanyak 61, 1% Berikut dampaknya: 
  1. Tidak peduli dengan sekitarnya. Orang yang sudah kecanduan facebook terlalu asyik dengan dunianya sendiri (dunia yang diciptakannya) sehingga tidak peduli dengan orang lain dan lingkungan disekitarnya. Seseorang yang telah kecanduan facebook sering mengalami hal ini. Tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dunianya berubah menjadi dunia facebook. Ada yang bilang autis.
  2. Kurangnya sosialisasi dengan lingkungan. Ini dampak dari terlalu sering dan terlalu lama bermain facebook. Ini cukup mengkawatirkan bagi perkembangan kehidupan sosial si anak. Mereka yang seharusnya belajar sosialisasi dengan lingkungan justru lebih banyak menghabiskan waktu lebih banyak di dunia maya bersama teman-teman facebooknya yang rata-rata membahas sesuatu yang tidak penting. Akibatnya kemapuan verbal si anak menurun. Tentu yang dimaksud autis disini bukan dalam arti yang sebenarnya. 
  3. Menghamburkan uang. Akses internet untuk membuka facebook jelas berpengaruh terhadap kondisi keuangan (terlebih kalau akses dari warnet) dan biaya internet di Indonesia yang cenderung masih mahal bila dibanding negaranegara lain (mereka sudah banyak gratis). Ini sudah bisa dikategorikan sebagai pemborosan, karena tidak produktif. Lain soal jika mereka menggunakannya untuk kepentingan bisnis. 
  4. Mengganggu kesehatan. Terlalu banyak nongkrong di depan monitor tanpa melakukan kegiaatan apa pun, tidak pernah olah raga sangat beresiko bagi kesehatan. Penyakit akan mudah datang. Telat makan dan tidur tidak teratur. Obesitas (kegemukan), penyakit lambung (pencernaan) dan penyakit mata adalah gangguan kesehatan yang paling mungkin terjadi  
  5. Berkurangnya waktu belajar. Ini sudah jelas, teralu lama bermain facebook akan mengurangi jatah waktu belajar si anak sebagai pelajar. Bahkan ada beberapa yang masih asyik bermain facebook saat di sekolah. 
  6. Kurangnya perhatian untuk keluarga. Keluarga di rumah adalah nomor satu. Slogan tersebut tidak lagi berlaku bagi para facebookers. Buat mereka temanteman di facebook adalah nomor satu. Tidak jarang perhatian mereka terhadap keluarga menjadi berkurang. 
  7. Tersebarnya data pribadi. Beberapa facebookers memberikan data mengenai dirinya dengan sangat detail. Biasanya ini untuk orang yang baru kenal internet hanya sebatas facebook saja. Mereka tidak tahu resiko menyebarnya data pribadi di internet. Ingat data di internet mudah sekali bocor, apalagi facebook yang mudah sekali di hack. 
  8. Mudah menemukan sesuatu yang berbau pornografi dan sex. Mudah sekali bagi para facebookers menemukan sesuatu yang berbau porno dan sex. Karena kedua hal itu yang paling banyak dicari di internet dan juga paling mudah ditemukan. Nah inilah fakta tidak dewasanya pengguna internet di Indonesia. 
  9. Rawan terjadinya perselisihan. Tidak adanya kontrol dari pengelola facebook terhadap para anggotanya dan ketidak dewasan pengguna facebook itu sendiri membuat pergesekan antar facebookers sering sekali terjadi. Contoh paling fenomenal adalah kasusnya “Evan brimob” beberapa waktu lalu. Kalau kamu tidak tahu Evan Brimob berarti ketinggalan berita. Evan Brimob adalah seorang anggota kepolisian yang baru kenal facebook dengan statemennya yang kontroversi “ Polisi tidak butuh masyarakat”.
Adapun pengaruh yang pada tata berbahasa remaja saat ini, Bahasa Indonesia yang tadinya harus dijunjung tinggi, sekarang seolah sudah tidak penting bagi para remaja sekarang, karena selain mereka selalu mengikuti tata cara berbahasa pada suatu tempat yang mereka tinggali, mereka juga terlalu jauh untuk mengikuti era modernisasi  yang sekarang terjadi begitu cepat dan tercampurnya oleh budaya barat yang seharusnya tidak mereka contoh dan mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kata-kata yang berasal dari negara asing seperti kata bahasa Inggris yang lebih sering digunakan dalam berinteraksi mereka sehari-hari memang diperlukan dan patut untuk dipelajari, namun tidak untuk dikaji dan digunakan dalam berinteraksi sehari-hari, bila seperti itu maka untuk apa bangsa Indonesia mempunai bahasa persatuan dan kesatuan yang harus dijunjung tinggi oleh semua warga negara Indonesia pada umumnya dan khususnya para kaum remaja jika para remaja sekarang lebih memilih bahasa yang mengikuti trend dalam modernisasi. 

Jika pengaruh-pengaruh diatas dibiarkan, mau apa jadinya generasi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubunganya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme. 

Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme. Langkahlangkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai-nilai nasionalisme antara lain:
  1. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk   dalam negeri. 
  2. Menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebaik-baiknya 
  3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. 
  4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar-benarnya dan seadil-adilnya. 
  5. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.
Kesimpulan Indonesia memiliki kebudayaan yang tidak terhitung jumlahnya. Definisi kebudayaan dan teknologi sendiri sangat luas tergantung orang menilai dari sudut mana. 

Disini saya mendenifisikan kebudayaan adalah gaya hidup ataupun cara hidup yang dimiliki sekelompok orang atau masyarakat yang diwariskan dan ditindaklanjuti dari generasi ke generasi. 

Sedangkan teknologi merupakan ilmu pengetahuan terapan untuk menciptakan suatu hal yang baru sehingga dapat menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Keduanya memang tidak bisa dipisahkan, adanya kebudayaan yang dimiliki sekelompok orang dapat menciptakan teknologi baru, begitu juga sebaliknya adanya teknologi baru dapat menciptakan kebudayaan yang baru pada masyarakat serta teknologi sebagai pertanda kemajuan kebudayaan. 

Semakin berkembangnya teknologi dimana informasi apa saja bisa masuk dalam kehidupan masyarakat kita yang ikut serta mempengaruhi tergesernya nilai-nilai budaya Indonesia ini.  

Pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia. Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia perlahan-perlahan mulai pudar. 

Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interistik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia.

Cara penanganan agar semua pengaruh tersebut dapat diambil sisi positifnya saja adalah dengan penyaringan budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa. Dengan tertananamnya jati diri bangsa pada setiap individu diharapkan mampu menjadi filter bagi kebudayaan asing yang bisa masuk kapan saja dan dimana saja. 

Strategi kebudayan kedepan sebenarnya yang diperlukan bukan hanya menjadi tukang-tukang teknologi, tetapi masyarakat mesti mampu menjadi penemu, dengan kata lain mendidik masyarakat untuk berfikir, berkata dan bertindak yang benar.  

Dengan demikian masyarakat Indonesia mampu mengkolaborasikan antara produk budaya dengan teknologi. bagi masyarakat yang mencoba mengembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan modern, tentu akan terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang yang masih berpolakan masa lalu untuk dijadikan komoditi yang dapat dikomsumsi masyarakat modern. 

Karena sebenarnya seni itu indah dan mahal. Kesenian adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa asing.

Sumber:
PENURUNAN RASA CINTA BUDAYA DAN NASIONALISME  GENERASI MUDA AKIBAT GLOBALISASI 
Dyah Satya Yoga Agustin, Institut Teknologi Sepuluh Nopember