Iklan

Bhama
17 Maret 2020, 06:06 WIB
Last Updated 2020-06-20T06:40:20Z
InsightLiterasi

Ini Efek Sinar Biru Gadget Terhadap Mata

Advertisement

Gudnyus.id - Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah semakin cepat sehingga tanpa disadari sudah mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Karena dengan seiring arus globalisasi tuntutan kebutuhan pertukaran informasi yang cepat menyebabkan peranan teknologi komunikasi menjadi sangat penting.

Tidak aneh jika sekarang banyak orang  menghabiskan waktu berkutat dengan ponsel, laptop, perangkat digital lainnya untuk mendapatkan informasi atau sekedar mencari hiburan. Meskipun mendapatkan suatu informasi semua perangkat digital termasuk gadget juga memiliki dampak buruk bagi kesehatan terutama dari efek sinar biru (blue light) yang terpancar dari gadget.

Kita tentu sudah sering mendengar tentang bahaya dari sinar UV yang dapat menyebabkan kerusakan pada mata dan kulit. Sinar UV tidak dapat terlihat oleh mata kita karena termasuk golongan cahaya tidak tampak (Invisible light), sumber terbesarnya adalah matahari. Mata manusia hanya mampu melihat cahaya dengan panjang gelombang 400 nm-760nm yang disebut dengan cahaya tampak (Visible Light).

Visible Light sangat di perlukan oleh mata kita dalam proses penglihatan sehingga kita dapat mengenali berbagai macam warna benda. Sumbernya bisa dari matahari langsung ataupun pencahayaan buatan seperti lampu neon, LED, monitor computer, smartphone, tablet, monitor laptop dan sebagainya.

Meskipun memberikan banyak manfaat bagi proses penglihatan, ternyata Visible light juga mempunyai efek samping yang buruk khususnya sinar biru yang mempunyai panjang gelombang 415 nm – 455 nm. Akumulasi dari paparan sinar biru yang masuk ke mata, jangka panjangnya dapat mempercepat terjadinya Degenerasi Makula.

Degenerasi makula menyebabkan kerusakan penglihatan yang berat, misalnya kehilangan kemampuan untuk membaca dan mengemudi tetapi jarang menyebabkan kebutaan total. Penglihatan pada tepi luar dari lapang pandang dan kemampuan untuk melihat biasanya tidak terpengaruh, yang terkena hanya penglihatan pada pusat lapang pandang (Lim,2008).

Agar dapat melihat, mata harus menangkap pola pencahayaan di lingkungan sebagai “gambar/bayangan optis” di suatu lapisan sel peka sinar, retina, seperti kamera nondigital menangkap bayangan dari film.

Seperti film yang dapat diproses menjadi salinan visual dari bayangan asli, citra tersandi di retina disalurkan melalui serangkaian tahap pemrosesan visual yang semakin rumit hingga akhirnya secara sadar dipersepsikan sebagai kemiripan visual dari bayangan asli (Sherwood,2009). Sama seperti pembentukan bayangan oleh lensa kaca pada secarik kertas, sistem lensa mata juga dapat membentuk bayangan di retina. Bayangan ini terbalik dari benda aslinya. 

Namun, demikian persepsi otak terhadap benda tetap dalam keadaan tegak, tidak terbalik seperti bayangan yang terjadi di retina, karena otak sudah dilatih menangkap cahaya yang terbalik itu sebagai keadaan normal (Guyton,2006).

 Mata mengubah energi dari spektrum yang dapat terlihat menjadi potensial aksi di saraf optikus. Panjang gelombang cahaya yang dapat terlihat berkisar dari 397- 723 nm. Bayangan suatu benda di dalam lingkungan di fokuskan di retina. Berkas cahaya yang mencapai retina akan mencetuskan potensial di dalam sel kerucut dan batang. Impuls yang timbul di retina dihantarkan ke korteks serebri, tempat impuls tersebut menimbulkan sensasi penglihatan (Ganong,2005).

Berkas cahaya akan berbelok (mengalami pembiasan) apabila berjalan dari satu medium dengan kepadatan tertentu ke medium lain dengan kepadatan yang berbeda, kecuali apabila berkas tersebut jatuh tegak lurus terhadap permukaan (Ganong,2005). Ketika masuk ke suatu medium dengan densitas tinggi , berkas cahaya melambat (yang sebaliknya juga berlaku). Berkas cahaya sejajar yang jatuh ke lensa bikonveks akan mengalami pembiasan ke titik (fokus utama) di belakang lensa. 

Fokus utama terletak pada garis yang berjalan melintasi pusat kelengkungan lensa, sumbu utama. Untuk keperluan praktis, berkas cahaya dari benda yang jatuh di lensa dengan jarak lebih dari 20 ft (6m) dianggap sejajar.

Berkas cahaya dari benda yang terletak lebih dekat dari 6 m akan menyebar sehingga jatuh ke fokus yang lebih ke belakang di sumbu utama daripada fokus utama. Lensa bikonkaf menyebabkan berkas cahaya mengalami divergensi (Sherwood,2009).

Semakin besar kelengkungan lensa, semakin kuat daya biasnya. Daya bias suatu lensa biasanya diukur dalam dioptri. Mata manusia memiliki daya bias sekitar 60 dioptri pada saat istirahat (Ganong,2005).

Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa dikenal sebagai akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya yang selanjutnya dikendalikan oleh otot siliaris (Sherwood,2009). pada keadaan istirahat, lensa dipertahankan berada dalam keadaan tegang oleh ligamentum lensa. Karna bahan lensa bersifat lentur dan kapsul lensa memiliki elastisitas yang tinggi, lensa tertarik menjadi gepeng. 

Apabila pandangan diarahkan ke benda yang dekat, otototot siliaris akan berkontraksi (Ganong,2005). Pada anak-anak, daya bias lensa mata dapat ditingkatkan dari 20 dioptri menjadi kira-kira 34 dioptri, ini berarti terjadi akomodasi sebesar 14 dioptri.

Untuk mencapai ini, bentuk lensa diubah dari yang tadinya konveks-sedang menjadi lensa yang sangat konveks. Bila berada dalam keadaan relaksasi tanpa tarikan tehadap kapsulnya, lensa dianggap berbentuk hampir sferis, terutama akibat refraksi elastik dari kapsul lensa (Guyton,2006).

Makula adalah bagian dari retina yang berfungsi sebagai penglihatan tengah, penderita degenerasi makula akan mengalami gangguan pada penglihatan sentralnya karena sel pada makulanya sudah rusak akibat paparan sinar UV dan sinar biru.

Saat sinar biru masuk ke mata, lensa dan retina tidak dapat memblokir atau memantulkannya sehingga mengenai dan merusak sel fotoreseptor. Rusaknya sel fotoreseptor bisa menyebabkan degenerasi makula (macular degeneration), yaitu penyebab kebutaan yang paling sering terjadi pada orang berusia 50 tahun atau lebih.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Toledo di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa paparan sinar biru yang terlalu lama bisa memicu sel-sel fotoreseptor (peka cahaya) pada mata untuk menghasilkan molekul beracun yang membahayakan mata.

Molekul yang disebut sebagai retinal ini awalnya berfungsi untuk membantu sel fotoreseptor dalam menangkap cahaya dan menyalurkan sinyal ke otak. Namun, adanya sinar biru bisa mengubah retinal menjadi molekul yang berbahaya untuk sel fotoreseptor karena bisa melarutkan membran sel fotoreseptor.

Degenerasi makula memang tidak menyebabkan orang buta secara total. Namun, Penglihatan akan jadi kabur atau tidak seterang penglihatan normal. Sayangnya penyakit ini belum bisa disembuhkan dan merupakan penyebab kebutaan.

Sinar biru ada dimana-mana disekitar kita, semua orang beresiko untuk terpapar sinar biru. Salah satu sumber sinar biru yang patut diwaspadai bersumber dari televisi, smartphone, dan ponsel lainnya. Anak usia di bawah 10 tahun dan orang diatas 45 tahun adalah kelompok orang yang paling rentan terhadap radiasi sinar biru ini.

Penyebab Degenerasi Makula
Terdapat 2 jenis degenerasi makula yaitu:

1)Degenerasi Makula bentuk kering, dimana terjadi endapan kuning pada makula yang dapat bertambah jumlahnya sehingga menyebabkan penglihatan buram.

2)Degenerasi makula bentuk basah, yang ditandai dengan pertumbuhan pembuluh darah abnormal dari lapisan koroid yang kaya akan pembuluh darah dibawah makula. Pembuluh darah abnormal ini akan membocorkan darah dan cairan ke retina menyebabkan penglihatan terhadap garis lurus menjadi bergelombang dan hilangnya penglihatan sentral. Pembuluh darah abnormal ini pada akhirnya membentuk jaringan parut dan menyebabkan hilangnya penglihatan sentral permanen.

Gejala Degenerasi Makula
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Beberapa orang mengalami gejala kehilangan penglihatan lebih lambat dibandingkan dengan orang lain. Degenerasi makula merupakan penyakit mata yang dianggap progresif dan biasanya semakin memburuk seiring waktu.

Hilangnya penglihatan pada awal degenerasi makula sangat bertahap sehingga kebanyakan orang bahkan tidak menyadarinya. Saat penyakit berkembang, ada kehilangan penglihatan yang sangat besar pada penglihatan sentral, sementara penglihatan tepi tetap tidak berubah sama.

Pada awalnya, gambar yang biasanya tampak jernih dan tajam menjadi kabur. Ketika penyakit ini berkembang mereka bisa menjadi terdistorsi, membesar, berawan, gelap atau tidak terlihat. Beberapa gangguan penglihatan tahap awal dari degenerasi makula:
  1. Garis lurus tampak bengkok
  2. Pengurangan penglihatan sentral di satu atau kedua mata
  3. Kebutuhan cahaya yang lebih terang saat membaca atau melakukan pekerjaan dekat
  4. Kesulitan beradaptasi dengan tingkat cahaya rendah, seperti ketika memasuki ruangan yang remang-remang
  5. Penglihatan kabur saat membaca
  6. Penglihatan terhadap kecerahan warna menurun
  7. Kesulitan mengenali wajah
Kesimpulan Makula adalah bagian dari retina yang berfungsi sebagai penglihatan tengah, penderita degenerasi makula akan mengalami gangguan pada penglihatan sentralnya karena sel pada makulanya sudah rusak akibat paparan sinar UV dan sinar biru.

Saat sinar biru masuk ke mata, lensa dan retina tidak dapat memblokir atau memantulkannya sehingga mengenai dan merusak sel fotoreseptor. Paparan sinar biru yang terlalu lama bisa memicu sel-sel fotoreseptor (peka cahaya) pada mata untuk menghasilkan molekul beracun yang membahayakan mata. Molekul yang disebut sebagai retinal ini awalnya berfungsi untuk membantu sel fotoreseptor dalam menangkap cahaya dan menyalurkan sinyal ke otak.

Namun, adanya sinar biru bisa mengubah retinal menjadi molekul yang berbahaya untuk sel fotoreseptor karena bisa melarutkan membran sel fotoreseptor. Salah satu sumber sinar biru yang patut diwaspadai bersumber dari televisi, smartphone, dan ponsel lainnya.

Sumber:
Pengaruh Radiasi Sinar Biru Gadget yang dapat Menimbulkan Terjadinya Degenerasi Makula (Macular Degenaration) pada Usia Muda
Fitria Yusti Ningrum, Nafi’atun Nashriyah, Institut Ilmu Kesehatan Strada Kediri
foto: pexels.com