Iklan

Bhama
3 Maret 2020, 21:19 WIB
Last Updated 2020-03-03T14:19:30Z
Insight

Semangat Cybertopia Perempuan yang Bergelut di Startup

Advertisement

Gudnyus.id - Pada awal kemunculanya, internet diprediksi dapat mengubah dan berperan signifikan dalam perekonomian yang menggunakannya sebagai media perekonomian. 

Peningkatan perekonomian ini berkaitan erat dengan komunitas virtual yang muncul dari berbagai tempat,  membentuk sebuah jaring-jaring yang menurut Mayfield (2008) akan menjadi ruang  terbuka dan bersifat  dua arah.

Internet sebagai peningkat perekonomian ini dikatakan oleh Ebo (1998: 1) bahwa “experts predict that the internet and Web will make electronic commerce the dominant mode of economic mediation as the number of virtual communities grows”. Pendapat di atas merujuk pada pemahaman bahwa inrernet akan memunculkan dunia baru yang bersifat egaliter.

Namun, opini Ebo ini mendapat kritikan dari beberapa ahli seperti Gumpert dan Drucker yang beropini bahwa nantinya internet, selain berdampak pada peningkatan perekonomian, juga akan memunculkan efek negatif berupa isu kesenjangan ras, kelas, dan gender, Ebo  (1998:2).

Dari kedua opini di atas maka kemudian munculah dua dikotomi yakni cybertopia dan cyberghetto. cyberghetto, ialah sekelompok orang yang pesimis dalam mengahadapi perkembangan teknologi termasuk internet karena mereka menganggap bahwa internet adalah ancaman.

Sebaliknya, cybertopia adalah perspektif yang meyakini bahwa teknologi bukan sebuah ancaman. Pandangan cybertopia mendukung technological determinism, yakni suatu teori yang beranggapan bahwa struktur yang ada di dalam masyarakat bergantung pada perkembangan teknologi (Smith, Merrit Roe & Marx, Leo , 1994). Dengan kata lain perkembangan teknologi termasuk internet akan mendatangkan dampak positif dalam perkembangan perekonomian.

Salah satu bentuk kemajuan internet dalam pandangan cybertopia adalah munculnya bisnis startup. Istilah startup sering “dikawinkan” dengan segala yang berbau teknologi, web, internet, dan yang berhubungan dengan ranah tersebut.

Hal ini disebabkan istilah startup itu sendiri yang muncul dan mulai dikenal masyarakat luas secara internasional pada masa buble dot-com. Pada saat itu banyak perusahaan yang mulai menjadikan website sebagai basis bahkan alternatif untuk memulai bisinisnya.

Internet sebagai arena bisnis baru ini tidak hanya dikendalikan oleh laki-laki sebagaimana adanya pemahaman yang tengah beredar di masyarakat bahwa teknologi adalah perpanjangan tangan kaum laki-laki.  Perempuan juga turut andil dalam binsis startup ini. 

Dilansir dari hasil survei dalam ranah teknologi informasi tahun 2014 termaktub bahwa kuantitas penggunaan internet lebih banyak digunakan oleh kaum perempuan, yakni sebesar 51%. Jumlah tersebut mengindikasikan bahwa di dalam dunia internet, gender selau fluid. 

Peran internet yang demikian ini memudahkan perempuan untuk bisa menduduki pos yang sama dengan lakilaki. Di dunia internet, kedudukan laki-laki dan perempuan tidaklah timpang. Internet yang menurut Sparks (2001) berbeda dengan media konvensional dengan keterbatasan ruang, telah membentuk dunia baru yang mengaburkan batas peran laki-laki dan perempuan.

Diketahui bersama bahwa sektor-sektor yang bergerak dibidang teknologi mayoritas digerakkan oleh laki-laki dan peran perempuan di dalamnya dianggap sebagai peran skunder. Perempuan memiliki keterbatasan kultural dan struktural dalam memanfaatkan teknologi.

Keterbatasan gerak perempuan dalam teknologi termasuk proses produksi maupun aplikasinya tidak lain disebabakan oleh budaya patriarki yang terlajur mengkotak-kotakan peran lakilaki dan perempuan. 

Pembagian peran inilah yang kemudian membuat perempuan juga mendapat stereotype dari berbagai institusi baik dalam karir, ekonomi, dan juga pendidikan. Menurut Wacjman (2001) Konstruksi sosial terkait karakterisasi perempuan atau feminin menyebabkan rendahnya partisipasi kaum perempuan terhadap sains dan teknologi.

Sampai di bahasan ini, mulai disadari bahwa perempuan bukanlah tidak mampu menjadi setara dengan kaum laki-laki, tapi sistem kultural yang terlanjur mengkotakkotakan itulah yang pada akhirnya membatasi perempuan untuk tetap berada dalam kotaknya, dalam koridor keperempuan. 

Munculnya bisnis startup menghapus adanya kotak tersebut. Bisnis startup memfasilitasi perempuan untuk bisa bergerak tanpa terhambat waktu. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian perempuan banyak mengabdikan harinya di dalam bisnis ini.

Melalui bisnis startup, perempuan tetap bisa bekerja di dalam rumah tanpa meninggalkan perannya sebagai perempuan yang biasanya mendapat porsi lebih dalam pengurusan keluarga dan anak.  

Kesemuanya ini menunjukan bahwa terjadi transformasi dalam kehidupan perempuan dengan bisnis melalui internet yang digelutinya. Dahulu, perempuan yang berdiam diri di rumah dan menghabiskan waktu membesarkan buah hatinya dan mengurus suami, dianggap buknlah pekerjaan. Dengan kata lain, pengurusan keluarga dan anak adalah pekerajaan yang tidak sama dengan pekerjaan versi standart pasar, Arivia (2012). 

Oleh karena itu boleh dikatakan jika bisnis starup membawa perubahan yang signfikan pada kehidupan perempuan. Bisnis stratup yang bertumpu pada koneksi internet, bisa dikendalikan tanpa batas ruang, dan waktu ini memunculkan stigma baru bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan di dalam rumah boleh jadi sama dengan pekerjaan versi standart pasar.

Kesimpulan diketahui bahwa internet memang membawa semangat cybertopia bagi kehidupan perempuan. Sepuluh perempuan pebisnis Startup sukses ini berhasil membuktikan bahwa perempuan bukanlah pihak yang marjinal dalam teknologi termasuk internet.

Sebab pada akhirnya perempuan mampu memunculkan makna baru tentang “rumah”, yang bukanlah lagi tempat yang berafiliasi dengan ideologi patriarkis, yang mengungkung perempuan untuk hanya bergelut dengan pekerjaan rumah tak berbayar, namun lebih dari itu, melalui bisnis startup perempuan bisa lebih berdikari tanpa harus terbelenggu pekerjaan yang dipakemkan.

Sumber : 
Perempuan Pebisnis Startup di Indonesia dalam Perspektif Cybertopia
Rizka Kurnia Ayu, Universitas Airlangga
Foto: Pexels.com