gudnyus
24 Juli 2020, 17:34 WIB
Last Updated 2020-07-24T10:34:05Z
Opini

Quo Vadis Kontrol Sosial Mahasiswa Polibatam

Advertisement


  • Penulis: Jirvan Mawardi

Berbicara partisipasi publik, mahasiswa yang dalam kapasitas keilmuannya, ia bisa dikatakan adalah seorang intelektual yang mempunyai pengetahuan dan pemikiran kritis terhadap permasalahan yang terjadi disekitarnya.

Namun sialnya, hari ini eksistensi mahasiswa tergerus diakibatkannya lemahnya partisipasi aktif atau terlibat langsung diranah publik terutama mahasiswa politeknik negeri batam. Hal ini bisa kita lihat dari data yang menunjukan bahwa kepri merupakan daerah yang memiliki partisipasi paling rendah dalam pemilihan umum (pemilu) baik itu dilevel nasional maupun dilevel regional.

Tiga kali pemilu yang berlangsung namun angka partisipasi publik tidak pernah melebihi dari 60% suara yang ada di daerah kita ini.

Padahal kita ketahui bersama bahwa konsep good governance tidak akan berjalan ketika minimnya partisipasi publik. Hal ini seharusnya menjadi refleksi didiri kita sebagai penyandang status mahasiswa untuk kita menchallenge kestatusan kita sebagai mahasiswa agar kemudian keterlibatan kita didalam pemerintahan daerah atau lembaga politik bersifat aktif.

Makna aktif disini bukan sebagai pelaku politik praktis, namun aktif dalam mengkritik, memberi saran, gagasan, ide atau pemikiran-pemikiran yang bersifat konstruktif. Hal ini agar kita bisa menghindari dari perilaku sesuka-sukanya para politisi atau pemangku jabatan yang dapat merugikan rakyat atau negara.

Untuk itu, banyaknya medium yang bisa kita gunakan tak berjalan secara produktif karna lemahnya partisipasi mahasiswa, saya kira lemahnya partisipasi mahasiswa dihari ini dikarnakan adanya miss-konsepsi diinternal mahasiswa terhadap politik.

Mahasiswa memandang politik sebagai objek kotor pemuas nafsu penguasa dan mahasiswa engan mendekatinya untuk diekplorasi lebih dalam. Dan oleh pemahaman tadilah kita melakukan pemikiran yang pragmatis seperti, "ah yasudahla, mau bersuara juga gak ada gunanya" "udah belajar aja yang bener gausah ikut campur politik." Dsb pernyataan-pernyataan penolakan terhadap partisipasi mahasiswa.

Jika kita lihat lebih dalam lagi, ketika kita berpartisipasi aktif ke publik atau lembaga politik, akan banyak pengalaman-pengalaman atau pengetahuan-pengetahuan yang kita dapati dan atau bisa mempertajam sisi keintelektualan kita.

Karnanya hari ini, kembalilah kita pertanyakan diri kita sebagai mahasiswa. Peranan apa yang akan kita mainkan dimasa muda kita ini? Kemana arah kita sebagai agent of change atau social control?  Maukah kita bersama terlibat untuk menuju bangsa yang progresif?