Advertisement
Oleh: Dr. Nyanyang Haris Pratamura, S.E., M.Si.
Ketua DPD HKTI Provinsi Kepulauan Riau
Wakil Gubernur Kepulauan Riau
Indonesia dan sejarahnya merekam bahwa santri dan petani menjadi komponen penting dalam perjalanan bangsa. Pesantren menjadi ruang pembentukan ilmu, akhlak dan logika sosial. Dan pertanian menjadi fondasi kehidupan masyarakat melalui upaya ketahanan pangan. Keduanya tumbuh dengan pola tradisi yang sama yaitu kesabaran dalam menjalankan proses, ketekunan dalam bekerja dan keyakinan bahwa usaha pantas akan memberikan hasil yang setimpal. Dalam konteks Kepulauan Riau yang memiliki karakter wilayah masyarakat kepulauan yang beragam, semangat itu menjadi kekayaan sosial yang harus terus dirawat.
22 Oktober setiap tahunnya akan memiliki makna historis. Pemerintah menetapkan tanggal itu sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 2015. Penetapan yang terilhami dari Resolusi Jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy,ari ditanggal yang sama pada tahun 1945. Momen yang menjadi bagian penting dalam sejarah bangsaitu kemudian diabadikan sebagai penghormatan atas jasa ulama dan para santrinya.
Namun, Semangat itu tidak boleh diredam oleh romantisme sejarah. Tantangan bangsa saat ini telah beribah jauh. Dulu kita berjuang dengan angkat senjata, tapi kini wujud perjuangan itu menghadapi tuntutan yang berbeda. Penguatan ekonomi, pemerataan pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, pengentasan kemiskinan, penguasaan teknologi dan ketahanan pangan.
Disinilah kita melihat irisan nilai yang kuat antara santri dan petani. Santi menanam ilmu melalui pendidikan dan pengabdian, sementara itu petani menanam benih dengan kerja keras dan merawat dengan kesabaran. Ada proses panjang, tidak instan dan berorientasi pada manfaat.
Membangun petani tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan bibit, pupuk, alat mesin pertanian atau sarana produksi. Yang jauh lebih penting adalah memperkuat kemampuan petani untuk mengelola usaha, menguasai teknologi, memperoleh akses pembiayaan, memahami pasar, membangun kelembagaan dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Dengan kemampuan tersebut, petani tidak sekadar menjadi penerima program, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan.
Perspektif yang sama juga dapat kita terapkan kepada generasi santri. Santri harus memiliki kesempatan untuk berkembang dengan tetap berpegang pada nilai agama dan akhlak. Penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, kewirausahaan dan keterampilan modern tidak harus menjauhkan santri dari nilai-nilai keislaman. Justru ilmu dan teknologi harus menjadi instrumen untuk memperluas manfaat pengabdian.
Bagi Kepulauan Riau, hal ini menjadi semakin penting. Sebagai provinsi kepulauan, kita menghadapi tantangan dalam membangun ketahanan pangan, mulai dari keterbatasan lahan produktif di sejumlah wilayah, konektivitas antarpulau, biaya distribusi hingga regenerasi petani. Karena itu, pembangunan pertanian Kepri membutuhkan inovasi, kolaborasi dan keberanian untuk melihat sektor pangan sebagai bagian dari masa depan daerah, bukan sekadar persoalan produksi hari ini.
Di lingkungan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Kepulauan Riau, kami memiliki kebiasaan melantunkan Sholawat Busyro sebelum memulai berbagai agenda kegiatan. Bagi saya, kebiasaan tersebut memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pembuka kegiatan. Sholawat adalah doa sekaligus pengingat bahwa setiap langkah perjuangan harus dimulai dengan niat yang baik dan diarahkan untuk memberikan kebermanfaatan.
Ada pesan yang ingin terus kami jaga dari kebiasaan tersebut: bahwa kerja keras harus berjalan bersama doa, ikhtiar harus berjalan bersama nilai, dan pembangunan harus selalu bermuara pada kemaslahatan masyarakat. Semangat inilah yang juga saya lihat dalam kehidupan para santri dan petani.
Hari Santri Nasional 2026 hendaknya menjadi momentum untuk memperluas makna pengabdian. Santri tidak hanya menjaga nilai agama, tetapi juga hadir menjawab persoalan masyarakat. Petani tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menjaga keberlanjutan kehidupan. Keduanya memiliki posisi penting dalam membangun manusia dan daerah yang tangguh.
Santri dan petani mengajarkan pesan yang sama: masa depan tidak pernah lahir secara instan. Ia harus ditanam, dirawat, diperjuangkan dan dipanen bersama. Santri menanam ilmu dan akhlak. Petani menanam pangan dan kehidupan. Pemerintah berkewajiban menciptakan ruang agar keduanya dapat tumbuh, berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Dari pesantren kita belajar keteguhan. Dari sawah dan ladang kita belajar kesabaran. Dari keduanya kita belajar bahwa membangun negeri membutuhkan ilmu, iman, kerja keras dan keikhlasan.
Santri Mengabdi, Petani Menghidupi, Kepri Menguat, Indonesia Maju.
Selamat Hari Santri Nasional 2026.
