22 Oktober 2026, 15:23 WIB
Last Updated 2026-10-22T08:23:02Z
nasional

Kedutaan Besar AS Luncurkan Proyek untuk Lindungi Situs Kapal Karam Perang Dunia II USS Houston

Advertisement



JAKARTA - Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta meluncurkan proyek dua tahun untuk melindungi dan melestarikan situs kapal karam sisa Perang Dunia II USS Houston, yang merupakan bagian sejarah penting bersama dari Amerika Serikat dan Indonesia.  Didukung oleh Dana Hibah Duta Besar untuk Pelestarian Budaya (Ambassadors Fund for Cultural Preservation/AFCP) dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, proyek ini akan memperkuat upaya lokal untuk menjaga situs dan menghormati memori dari para tentara Amerika yang gugur bersama kapal tersebut.   

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan lembaga swadaya masyarakat Perkumpulan Eksotika Desa Lestari akan menjalankan proyek ini. Bersama, mereka akan membentuk dan melatih tiga tim pengawasan berbasis masyarakat untuk memonitor situsnya, mencegah penjarahan, dan  mencegah praktik penangkapan ikan yang berpotensi merusak alam.  Dengan adanya dukungan tenaga ahli dari AS, proyek ini akan menggarap materi pelatihan dan alat pelaporan, membentuk pusat-pusat informasi, serta menjalankan kampanye kesadaran masyarakat untuk mendorong perlindungan situs kapal karam tersebut. 


“Melindungi situs USS Houston adalah tanggung jawab kita bersama. Melalui proyek ini, masyarakat Indonesia, mitra pemerintah, dan para pakar AS akan bekerjasama untuk melindungi tempat istirahat terakhir dari ratusan tentara Amerika dan situs penting sejarah Perang Dunia II,” kata Kuasa Usaha Ad Interim Kedubes AS Joy Sakurai dalam sambutannya.  “Dalam peringatan Freedom 250, tidak ada cara yang lebih baik untuk menghormati sejarah Amerika, selain dengan melestarikannya dengan bantuan sahabat dan mitra kami.” 

Pada 1 Maret 1942, kapal penjelajah USS Houston dan kapal penjelajah Australia HMAS Perth bertempur menghadapi kekuatan musuh di Selat Sunda, di lepas pantai Jawa. Sebanyak 650 pelaut serta Marinir Amerika berada di antara lebih dari 1.200 pelaut yang gugur. Bangkai kapal USS Houston adalah makam perang dan tempat peristirahatan terakhir bagi banyak anggota awaknya, tetapi menghadapi ancaman dari penjarahan tidak sah dan praktik penangkapan ikan yang merusak. Dengan memberdayakan komunitas lokal untuk melindungi bangkai kapal ini, proyek tersebut akan membantu melestarikan situs warisan maritim penting sekaligus memperkuat kerja sama Amerika Serikat-Indonesia dalam pelestarian budaya, keamanan maritim, dan hubungan antarmasyarakat. 

“USS Houston merupakan situs yang harus kita lindungi bersama-sama, dan hal tersebut membutuhkan komitmen bersama dari pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat, dengan pemerintah daerah dan komunitas lokal berada di garis terdepan dalam pelestarian jangka panjangnya,” ujar Nia Naelul Hasanah Ridwan yang memimpin proyek Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) 2026. “Kami berharap proyek AFCP ini akan menjadikan USS Houston sebagai model percontohan kerja sama bilateral yang menempatkan masyarakat di pusat pengelolaan warisan budaya.” Nia adalah kandidat doktor arkeologi di Universitas Flinders dan peneliti ilmiah arkeologi maritim bawah air di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia. 

Dibentuk pada 2001, AFCP mendukung pelestarian warisan budaya di seluruh dunia, termasuk bangunan bersejarah, situs arkeologi, naskah kuno, dan bangkai kapal. Melalui proyek ini, Amerika Serikat dan Indonesia bekerja sama untuk memastikan bahwa kisah USS Houston dan pengorbanan para awaknya terus dikenang oleh generasi mendatang.