29 Oktober 2019, 12:54 WIB
Last Updated 2019-11-01T04:26:24Z
Insight

Soal Menjaga Hati, Aku Pemenangnya

Advertisement

Gudnyus.id - Kita masih berkomunikasi seperti biasanya malam itu. Mulai pembicaraan itu mengarah pada rasa cemburu yang sempat aku tunjukkan padamu beberapa hari sebelumnya, lalu kau menjelaskan panjang lebar hingga akhirnya aku paham kenapa bisa seperti itu.

Cerita ini awalnya bermula dari postingan miliknya yang menampilkan suatu kemesraan pada lelaki lain. Lantas saja aku merasa berang, namun aku tak mampu berkata apa apa. Wajar menurutku cemburu itu muncul lantaran aku juga memiliki perasaan padamu tapi aku pun ingat kau pernah bilang kita hanya sebatas jalani saja. Anehnya kau juga mengakatan kau memiliki perasaan yang sama untukku. Aku bingung dengan konsep ini

Hari ini kau begitu menjadi orang dirindukan, besok kau sudah berubah menjadi orang yang paling ingin ku lupakan. Terus seperti itu, terulang lagi lagi dan lagi.

Memang benar sejak awal kau tak ingin terikat dalam sebuah hubungan, tak ingin berkomitmen, tak ingin berada jalur. Itu sebabnya dengan mudahnya kau memberikan izin padaku untuk mendekati siapapun dan didekati oleh siapapun agar kau pun melakukan hal yang sama, dekat dengan siapapun tidak perlu takut, karena kau sudah paham status kita hanya “jalani aja dulu”.

Sadar kah kau, dengan konsep yang kau bawa itu justru menghukum orang yang telah diungkap bahwa kau sayang padanya? Mungkin bagimu ini tidak menyakiti karena kau berpikir tak saling mengekang. Lalu bagaimana dengan aku?  Aku bicara soal komitmen, bukan soal menjalani hubungan yang biasanya orang sebut pacaran. Kita tak lagi ada di masa itu!

Ini lanjutan dari cerita yang pernah ku sampaikan padamu, soal siklus perasaan yang hanya berakhir pada jalani saja tanpa arah dan tujuan. Aku sadar tentang kenaifanku, kau pasti berpikir tentang bisa apa aku, punya apa aku, dan apa yang bisa ku tunjukkan untukmu. Aku yakin semua pertanyaan itu akan muncul di kepalamu yang keras itu.

Air mata! Aku pernah menjatuhkannya untukmu. Yah... aku paham, air mata tak merubah apa apa, tak mampu membeli apa apa, pada akhirnya kau hanya mengkalkulasi jumlahnya dengan milikmu yang jelas lebih banyak dikeluarkan. Terkadang pernah terbesit dibenak ku kenapa kita ada dalam kedekatan ini, kenapa perasaan ini justru muncul dan semakin dalam semenjak malam perjumpaan kita yang tak terkonsep itu.

Jika bisa dibilang, kau jauh sudah di atas ku. Kau bisa melakukan apapun jauh lebih baik dariku, berpuisi, menyanyi, berbahasa asing, kau bisa melakukan itu semua dengan mudah. Wajar bila ku pikir tak sepantasnya kau bersama lelaki sehina ku. Bukan aku merendah, bukan aku tidak bersyukur, aku menikmati setiap kekurangan yang ada dalam diri ini, tapi dengan begitu justru kau dengan lantang menunjukkan idealisme dirimu.

Mungkin sudah menjadi karaktermu untuk membiarkan semua orang bisa masuk tanpa menetap. Hingga secara tidak sadar ada hati yang sedang kau hukum demi menjaga perasaanmu. Kau tidak sadar akan hal tersirat itu.

“Memang begitu semesta bercanda
 Ada hati yang rela menyingkirkan hati hati yang lain
Demi mempertahankan satu hati
Namun hati ini justru dikecewakan oleh hati yang dipertahankan
Bertahan untuk dipermainkan
Sepertinya menjadi hobi favorit saat ini
Mengizinkan hanya kedok kamuflase
Agar kebohongan di belakang tertutupi
Menawarkan konsep menjalani
Mengeluarkan fatwa menyayangi diri
Lantas tak merubah hubungan punya tujuan
Layangan tak terbang kalau tidak ditarik ulur
Begitupun perasaan, tak terbuai
Ujungnya akan terbuang lantaran bertahan
Soal menjaga hati untukmu, aku pemenangnya”

Kini kisah ini tak lagi istimewa bila diceritakan, yang seharusnya menjadi momen tiap kali kita berkomunikasi di sela kesibukkan. Aktivitas yang kita lakukan hanya sebagai cara untuk saling melupakan.