-->

Iklan

gudnyus
10 Oktober 2019, 19:38 WIB
Last Updated 2019-10-11T06:52:45Z
Info

Waspada Ancaman Dibalik Hadirnya Startup Unicorn Bagi Indonesia

Advertisement
 
Gudnyud.id - Hadirnya startup unicorn di Indonesia seperti Ruang Guru, Shoope, Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak membuat antusiasme dikalangan masyarakat Indonesia melonjak. Mereka hadir untuk memberikan solusi atas kebutuhan masyarakat jaman sekarang yang inign cepat, jelas, dan murah, kehadiran startup unicorn di Indonesia mampu mengundang banyak investor asing datang dan menanamkan sahamnya.

Antusiasme yang begitu besar dari masyarakat atas hadirnya startup, menimbulkan peluang bisnis yang  memiliki potensi pasar amat besar hal ini menyebabkan pertumbuhan beberapa unicorn mengalami perkembangan yang positif.

Menurut Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia, Didik J. Rachbini, menyatakan “investasi asing kepada unicorn membuat ekonomi positif, akan tetapi, derasnya Foreign Direct Investment (FDI) atau arus investasi asing secara langsung dapat membuat defisit transaksi berjalan atau Current Account Defisit (CAD) menjadi negatif. Hal ini diakibat oleh dana investasi langsung akan kembali kepada negara pemberi modal dalam bentuk dividen atau profit.”

Hal ini menimbulkan ancaman yang cukup serius bagi perusahan startup apalagi setiap tahunnya mereka harus memperhatikan, menghitung, dan mempertimbangkan anggaran, keuntungan, kerugian, dan investor agar startup mereka dapat terus berjalan belum lagi ancaman-ancaman yang datang secara tiba-tiba. Apa ancaman itu :

Ancaman Defisit Neraca Perdagangan
“Saya perkirakan, 10 tahun lagi akan lebih parah (defisit). Setelah unicorn-unicorn itu untung. Nanti kalau sudah ada pengerukan keuntungan, defisit current account bisa tinggi. Ini tidak akan pernah membuat rupiah menguat. Selama neraca jasa negatif,” ujarnya Didik J. Rachbini di Jakarta.

Akan hal ini, Didik J. Rachbini menegaskan, bukan berarti Indonesia harus menghilangkan arus investasi asing secara langsung kepada unicorn dalam negeri. Hal yang perlu dilakukan ialah memberikan ruang bagi para investor yang memiliki komitmen investasi berorientasi ekspor produk Indonesia.

Oleh karena itu, kebanyakan investor asing saat ini  masih menjadikan Indonesia sebagai lumbung atau pasar untuk produk-produk dari negara mereka. Didik menyampaikan, 93 persen  mayoritas barang e-commerce yang dijual adalah produk impor.

“Semua yang ditarik investasi orientasi ekspor. Yang sekarang ini investasinya mengeksploitasi semua  pasar dalam negeri, barangnya impor,” ujarnya. Terlebih lagi, beberapa unicorn asal Indonesia merupakan e-commerce yang mempunyai konsumen tertinggi di Indonesia.

Ia berharap, pemerintah akan mendorong para pelaku e-commerce di Indonesia untuk lebih gencar memasarkan produk lokal. Agar produsen di Indonesia  mulai berkembang dan mampu memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Sehingga defisit transaksi akan berjalan dengan baik  atau berkurang bahkan diimbangi dengan peningkatan ekspor produk dalam negeri.

“E-commerce harus membantu negara mengatasi masalah bangsa, membantu UMKM dengan ekspor. E-commerce harus jadi alat memperjuangkan kepentingan kita, devisa kuat. Jangan malah sebaliknya impor terus. Impor menguras devisa kita,” tegasnya.

Foto: pitchbook.com