-->

Iklan

20 Desember 2019, 17:40 WIB
Last Updated 2020-02-13T04:38:30Z
Story

Ku Ungkapkan Hari Ini, Mulai Besok Aku akan Merindukanmu

Advertisement


Tenang saja...

Aku tidak akan menggunakan majas apapun untuk menutupi ungkapan ini. Aku sudah tahu kau bukan orang yang mudah nyambung. Mungkin “Ih... Kamu ni lola banget sih!?” sudah bagaikan makan siang bagimu. Tapi bagaimanapun, bisa jadi itu menjadi sebab sederhanaku.

Aku pernah menulis puisi tentang seorang nahkoda yang terusir menjadi penumpang buangan. Kali ini aku tidak memberitahumu, hanya sekedar mempostingnya di status whatsapp. Biasanya ada saatnya aku memintamu untuk menuliskan makna puisi yang ku buat, tapi kali tidak. Takutnya kau malah bosan.

Memang tidak nyambung, kau bukan orang yang terlalu suka dengan kegiatan menulis, tapi justru ku minta untuk memaknai. Wajar saja kau pusing sendiri. Terkadang aku merasa seperti mengerjaimu, atau bahasa kekiniannya prank. Tapi entah bagaimana ku bisa memintai orang untuk menuliskan makna puisiku, dan orang yang itu tidak terlalu suka menulis. Ini pertama kalinya.

Aku ingin bercerita tentang film Tenggelamnya Kapal Van Dier Wicjk, tapi sepertinya terlalu lama. Ini belum masuk ke cerita inti yang ingin ku sampaikan padamu. Memang sepertinya bakal membosankan kenapa akhir-akhir ini harus membahas soal perasaan yang sejujurnya ini adalah hal klasik dan itu itu saja pembahasannya. Bagaimana kalau aku sedikit menggeser sedikit temanya? Tentang perkenalan mungkin? Atau cerita dini hari ? Ah.. sudahlah . Tidak perlu dibahas lagi

Tadi ku singgung soal film Tenggelamnya Kapan Van Dier Wicjk kan? Ya tidak mungkin aku harus menceritakan ulang. Tapi ada poin yang ingin ku beritahu sedikit. Tentang “Teroesir” dan “Karya”. Kalau kamu pernah menontonnnya, pasti tahu hubungan keduanya.

Zaenuddin menulis kisah cintanya dalam sebuah buku sesaat setelah “terusir”. Tulisannya begitu digemari banyak orang, termasuk oleh orang yang dulu pernah ia cintai. Ia sukses dari tulisannya. Padahal ia mengalami keterpurukan yang begitu dalam.

Ia bagai pengemis cinta untuk sebuah cinta yang terhalang tahta, kedudukan dan keturunan. Lambat laun, ia (Zaenuddin) harus memanjat dari tebing curam untuk memperbaiki hari-harinya. Menulislah cara ia menemukan sebuah cahaya, bangkit dari kegelapan, menemukan harapan dan kesuksesan.

Menghasilkan karya disaat terpuruk bukanlah hal yang mudah. Semua akan terasa sia-sia, tak ada gunanya. Tapi sadar terlalu menikmati kepahitan akan membuat hidup di seperti tanah penyiksaan. Bagitu pula yang rasakan Zaenuddin, bangkit lah ia dari kesakitan yang ia rasakan.

Aku yakin sebagian dari kita pernah “terusir” dari orang dia yang dulunya kita cintai. Memang tidak sekompleks yang di alami Zaenuddin, tapi tersingkir dari sebuah penantian dan harapan, bukan lah  sebuah kejadian yang biasa-biasa saja. Ketika itu juga akan merasakan kerapuhan hati yang selama ini bertahan.

Setelah ku menceritakan sedikit tentang film barusan, kau pun bertanya “Pernah ngalamin?” Yah lantas saja ku jawab pernah, tapi tidak sepahit yang dialami Zaenuddin. Hanya terusir dari singgahan hati yang tak mampu bertahan, tak mampu menjaga hati, tak mampu menghargai. Dan akhirnya harus dibuang dari perahu yang ditumpangi. Kini perahu itu penuh dengan penumpang sementara. Padahal ia seharusnya jadi nahkoda saat itu. Itulah “Teroesir” yang ku alami.

Kau menguatkan setelah itu...

Kau bilang, bahwa Tuhan memberikan porsi cobaan sesuai kekuatan hamba-Nya. Aku pernah baca itu di postingan mu. Setidaknya saat ini aku sudah tidak lagi di momen terusir itu lagi. Semua ternyata kembali baik-baik saja.

Intensitas obrolan di saat dini hari....

Semakin larut di gelap ini, ternyata membuat kita semakin terlarut dalam obrolan. Cerita di malam hari yang ku sampaikan, dimana malaikat sedang mencatat doa-doa dari hamba-Nya yang sedang bermesraan dengan Pencipta Alam Semesta.  Aku mulai merasa nyaman untuk mengungkapkan padamu. Tentang diri ini yang begitu lemah, aku ceritakan padamu.

Rasa sakit medis, yang sekian lama singgah di paru-paru ini, hingga merasa tidak cara lain untuk bertahan hidup selain menenggak obat di setiap harinya. Sakit tentu, rapuh pasti, menutupi sudah ku lakukan. Maafkan aku yang menjadikanmu tempat keluh ku, mengganggu waktu tidurmu, membuang malam mu dengan kejujuran ini.

Respon manis...

Itulah yang selalu kau berikan, kau tidak segan untuk menyimak ceritaku. Sembari memberikan nasihat kecil yang justru membuat tersirat senyum di bibir ini. Kau memarahi ku dengan cara yang lucu.

Membuat aku ingin menikmatinya tidak hanya malam itu saja. Tapi hari-hari ke depannya juga. Mungkin benar, semakin laun kau menemukan jenuh dengan semua cerita ku. Ingatkan itu disaat aku melakukanya.

Aku menyukaimu, (Mungkin besok ku akan merindukannmu)

Buatlah alasan sederhana untuk menyukai sesuatu. Sepertinya aku sudah menemukan alasan sederhana itu. Mungkin bisa jadi kau akan merasa risih membaca ini, itu sebabnya aku tak akan bicara langsung kepadamu. Kau tahu aku lemah, seberapa tidak pantasnya aku dengan rautan wajah yang tak rupawan ini, kau mungkin menyukai diksi ku tapi tidak dengan raga lemah ini.

Kau akan tahu dengan sendirinya, disaat semua gerak-gerik bodoh ku tertuju padamu. Pilihan itu mungkin cuma 2, risih dan benci lalu kau menjauhiku, kemudian tertawa dan nyaman lalu bertahan.

Sebelum ini, aku selalu menceritakan kisah getir. Lalu semua diksi pahit tiba-tiba berubah manis dan aku menemukannya di malam hari. Yang awalnya aku selau menggeneralisasi sebuah kiasan saat ini aku ingin membuatnya menjadi sederhana.

Bukan maksudku agar kau mengetahuinya, memendam dan mengungkapkan adalah pilihan. Bagiku keduanya hanya soal kebiasaan. Dikala kau sudah menemukan alasan sederhana itu dariku, tolong beritahu aku. Aku sudah lebih dulu merasakannya darimu. Tolong biarkan aku dulu menikmati ini semua tanpa harus aku mengungkapkan.

Terdengar bodoh...

Bagaimana mungkin sebuah perasaan akan tersampai tanpa di ucap? Yah... itulah aku. Semua akan ku ungkap selain dari ucapan. Sampai kau sendiri tahu, sampai kau memilih untuk pergi, atau sampai kau memilih bertahan. Jari-jari ini akan terus menceritakan tentang kita disaat mulut ku bungkam.

“Menyukailah, walapun hanya dengan sebab sederhana,
Lalu hilangkan sebabmu dikala kau mencintaiku,
Dikala kau sudah tahu aku menyukaimu,
Dikala aku mencintaimu”

"Duduklah disampingku, bersandarlah dibahuku, marahilah aku setiap hari, rawatlah aku disaat aku terpuruk dan temani aku di malam sunyi dikala aku menulis. Menulis alam semesta, menulis kisah, menulis berita, menulis puisi, menulis obrolan kita setiap malam" (sebuah doa untukmu)