-->

Iklan

Bhama
17 Februari 2020, 11:05 WIB
Last Updated 2020-02-17T04:05:09Z
Insight

Pengaruh Desain Pada Pola Pikir Manusia

Advertisement

Gudnyus.id - Desain merupakan merupakan suatu proses yang dapat dikatan seumur dengan keberadaan manusia di bumi. Desain mempunyai bahasa visual yang merupakan simbol-simbol bahasa yang dapat dimengerti manusia. Desain secara tidak langsung dapat memengaruhi manusia melalui gambar, font, maupun warna yang dipakai dalam desain tersebut. 

Sebagian dari kita berpendapat seolah-olah desain baru dikenal sejak jaman modern dan merupakan bagian dari kehidupan modern. Design dapat menjadi cahaya dalam kehidupan hingga merubah pola pikir dan gaya hidup manusia, manusia mempuyai rasa ingin tahu terhadap benda-benda di sekelilingnya, alam sekitar, matahari, bulan, tanaman, hewan dan semua makhluk hidup yang lainya. 

Seni dalam merefleksikan alam kenyataan yaitu bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerima. Sehingga karya seni dapat dijadikan sebagai media untuk menimbulkan efek-efek psikologis, baik yang berupa tanggapan, pengamatan, pengenalan, imajinasi yang rasional maupun emosional. 

Seni tumbuh dan muncul ketika perasaan didorong untuk menyatakan pengalaman-pengalaman kepada orang lain. Seni dapat tumbuh dan muncul karena dorongan perasaan dan emosi guna membagi berbagai wawasan, ide gagasan, atau perasaan dan pengalaman kepada orang lain. Pada prinsipnya istilah dan pengertian seni tidak perlu dibahas dan dimengerti secara mendalam, seperti halnya dalam perjalanan hidup seseorang yang secara mudah dialami.

Desain awalnya masih berbaur dengan seni dan kriya. Dimana, pada dasarnya seni adalah suatu pola pikir untuk membentuk ekpresi murni yang cenderung fokus pada nilai estetis dan pemaknaan secara privasi. Sedangkan desain memiliki pengertian sebagai suatu pemikiran baru atas fundamental seni dengan tidak hanya menitik-beratkan pada nilai estetik, namun juga aspek fungsi dan latar industri secara massa, yang memang pada realitanya pengertian desain tidak hanya digunakan dalam dunia seni rupa saja, namun juga dalam bidang teknologi, rekayasa, dll.

Bahasa visual, seperti halnya bahasa sastra, dimana seorang komunikan menyampaikan ide gagasannya kepada audien melalui simbol-simbol atau unsur-unsur seni rupa yang bertujuan agar khalayak (audien) yang melihat dapat memahami dan terpengaruh. Bahasa visual merupakan simbol-simbol bahasa yang berupa gambar dan bertujuan untuk menyampaikan ide gagasan kepada khalayak.

Adapun bahasa gambar secara visual dapat dikatagorikan menjadi tiga tingkatan, yaitu: Representationally, Symbolically, dan Abstractly (Dondis, 1974:65). Representation, berasal dari istilah representation yang diambil dari bahasa inggris represent, yang artinya mewakili, sedangkan representation artinya gambaran. 

Secara teoristis mereka adalah pelukis- pelukis objektif, pelukis yang akan melukiskan apa saja yang dijumpai tanpa pandang bulu, dan tidak akan menciptakan sesuatu yang hanya keluar dari gagasannya (Soedarso, 2000:31). Sebagai contoh karya fotografi, lukisan atau gambar yang bercorak realis.

Dalam bidang seni rupa, istilah simbol diartikan sebagai penyederhanaan bentuk visual yang bertujuan untuk mempermudah ingatan pada suatu bentuk, baik dari segi objektif maupun subjektif. Kelebihan bahasa visual simbolis ternyata mampu mengantarkan sebuah informasi yang pola pikirannya sangat bervariasi. 

Koentjaraningrat (2002) dalam bukunya mengungkapkan ide dan gagasan manusia hidup bersama dalam suatu masyarakat dan memberi jiwa kepada kelompok masyarakat itu sendiri. Gagasan dan pola pikir manusia tak lepas dari satu dan yang lainnya, melainkan merupakan sistem sosial mengenai tindakan manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri atas aktivitas manusia dan interaksinya, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain. 

Pergaulan manusia modern tentu tidak sebatas antar manusia, melainkan pula dengan produk yang digunakannya, misalnya telepon genggam tidak bisa lepas dari kehidupan manusia begitu pula halnya dengan aksesories lainnya.

Kebiasaan inilah yang disebut koentjaraningrat akan membentuk pola-pola dan kebiasaan tertentu sehingga menjadi adat dan tata kelakuan. Produk desain dengan segala kelebihannya telah membuat manusia seperti tak berdaya, desain telah membangun dan memupuk hasrat dan keinginan manusia untuk dapat memiliki produk “baru” hingga lahirlah kaum konsumtifisme yaitu orang-orang yang lebih mementingkan keinginan dibanding kebutuhan, mereka tidak lagi melihat fungsi dan kebutuhan melainkan rasa ingin memiliki sesuatu yang tujuannya hanya ingin menampilkan gaya dan kemewahan. 

John A. Walker (2010). Menyebutnya gaya hidup hanyalah menawarkan rasa dan identitas yaitu untuk mengurangi kecemasan karena terlalu banyaknya pilihan suatu barang (produk desain).

Kesimpulannya Desain dapat mempengaruhi pola pikir manusia melalui visual yang ditampilkan seperti bentuk, font yang digunakan, dan juga warna pada desain tersebut. Sebenarnya pada prinsipnya, alam sekitar/lingkungan sangat menentukan pola pikir (persepsi) dalam mengartikan suatu bentuk/objek. Setiap manusia harus bisa memilah hal yang ia lihat, rasakan dengan baik.

Sumber:
PENGARUH DESAIN TERHADAP POLA PIKIR MANUSIA MODERN 
Indah Jumadilah 
Foto: Pexel.com