-->

sponsor

sponsor
Bhama
11 Maret 2020, 11:14 WIB
Last Updated 2020-03-11T04:14:44Z
Insight

Global Warming Bawa Ancaman Pandemi Penyakit Hewan Menular

Advertisement

Gudnyus.id - Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan perekonomian suatu negara, maka setiap negara berlomba-lomba untuk semaksimal mungkin mengeksploitasi sumberdaya alam, baik yang terdapat di negaranya maupun yang ada di negara lain.

Hal demikian memang terbukti mampu membangun perekonomian global yang dikenal dengan istilah black economy dimana sektor pertambangan yang antara lain terdiri dari bahan bakar fosil, mineral, tambang emas sempat menjadi komoditas perdagangan utama. 

Masyarakat dunia mulai menyadari bahwa eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya alam tersebut memiliki keterkaitan dengan kejadian fenomena alam berupa meningkatnya permukaan air laut, mencairnya es di kutub, naiknya suhu permukaan bumi dan terjadinya perubahan iklim dunia.

Fenomena alam yang dicirikan dengan berbagai perubahan tersebut juga dipicu oleh semakin berkembangnya industri primer, industri manufaktur dan meningkatnya sektor transportasi global yang kesemuanya terkait dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca berupa CO2, CH4 dan N2O.

Gas rumah kaca ini, di atmosfir akan memantulkan kembali radiasi sinar matahari infra merah ke permukaan bumi sehingga panas permukaan bumi akan meningkat dan terjadilah pemanasan global yang salah satunya menyebabkan terjadinya perubahan iklim.

Dampak dari pemanasan global dan perubahan iklim ini antara lain akan menimbulkan gangguan musim, terjadinya iklim yang ekstrim, banjir di satu tempat dan kekeringan di tempat lain, perubahan suhu dan kelembaban udara (EASTERLING et al., 2000). 

Keadaan ini dapat memicu perubahan kehidupan biologis berbagai agen patogen seperti virus, bakteria, parasiter atau kapang, berbagai spesies hewan dan berbagai vektor seperti nyamuk, lalat atau caplak sebagai hospes antara yang berperan dalam menularkan penyakit ke berbagai spesies hewan (KAY dan AASKOV, 1989; WILLCOX dan COWELL, 2005; MCMICHAEL dan WOODRUFF, 2008). 

Keadaan ini akan melahirkan berbagai penyakit hewan baru (emerging disease) seperti kejadian penyakit West Nile di Amerika Serikat pada tahun 1999 (BRIESE et al., 1999; KOMAR, 2003), atau penyakit yang sudah lama tidak muncul dapat muncul kembali (re-emerging disease) seperti kejadian penyakit bluetongue di Mediteranian dan di Eropa (MELLOR danWITTMANN, 2002;PURSE et al., 1999). 

Prinsip Terjadinya Penyakit Hewan, dapat dikategorikan sebagai penyakit yang terjadi pada hewan baik yang disebabkan oleh agen patogen atau agen infeksius (seperti virus, bakteria dan parasiter) maupun disebabkan oleh penyebab lain selain agen infeksius (seperti senyawa beracun atau gangguan metabolisme).

Penyakit hewan ada yang hanya dapat menular dari hewan ke hewan saja seperti penyakit Septichaemia epizootica (SE) yaitu penyakit ngorok yang disebabkan oleh bakteria Pasteurella multocida atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia atau yang dikenal sebagai penyakit zoonosis. 

Di Indonesia penyakit SE bersifat endemis, banyak menyerang ternak sapi dan kerbau di berbagai provinsi (NATALIA dan PRIADI, 2006). Penyakit ini penularannya secara langsung dari hewan ke hewan lainnya melalui kontak langsung, dan tidak dapat menular ke manusia.

Adakalanya penyakit yang hanya dapat menyerang hewan ini penularannya terjadi tidak secara langsung dari hewan tertular ke hewan lainnya, melainkan harus melalui hospes antara seperti lalat Tabanus sp. yang berperan sebagai vektor pada kejadian penyakit surra pada sapi, kerbau atau kuda. Penyakit surra juga merupakan penyakit endemis di Indonesia seperti yang dikemukakan olehPARTOUTOMO (1993). 

Penyakit hewan yang hanya menular diantara hewan contohnya penyakit SE sedangkan penyakit zoonosis misalnya penyakit rabies yang ditularkan anjing penderita rabies ke manusia melalui gigitan anjing.

Penyakit zoonosis lain yang penularannya harus melalui vektor nyamuk diantaranya penyakit Japanese encephalitis (JE) pada babi atau penyakit West Nile (WN) yang umumnya terdapat pada burung atau spesies hewan mamalia lainnya (seperti kuda), (KOMAR, 2003; ENDY dan NISALAK, 2002; MCMICHAEL dan WOODRUFF, 2008). Bagan penularan berbagai penyakit hewan dan Zoonosis.

Penyakit hewan akan muncul karena ada interaksi antara spesies hewan yang peka (sebagai hospes), keberadaan agen patogen dan lingkungan/ habitat yang mendukung. Untuk penyakit yang dalam penularannya kepada hospes memerlukan vektor yang kompeten, maka keberadaan vektor tersebut merupakan tambahan persyaratan yang harus terpenuhi keberadaannya (EPSTEIN, 2001).

Apabila ketiga atau keempat hal tersebut terdapat pada jangkauan lokasi dan waktu yang tepat maka hampir dapat dipastikan bahwa penyakit akan muncul. Keadaan lingkungan ini merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi kondisi spesies hewan (hospes) sehingga pada kondisi tertentu bisa sebagai pemicu timbulnya penyakit atau wabah. Pengaruh perubahan lingkungan terhadap perkembangbiakan agen patogen juga ikut menentukan hal yang sama. 

Demikian juga dengan pengaruh perubahan lingkungan terhadap perkembangan dan keberadaan vektor juga dapat memicu terjadinya penyakit. Pada kondisi spesies hewan menjadi stres akibat perubahan lingkungan, sementara itu perkembangan agen patogen dan vektor menjadi lebih cepat pada perubahan lingkungan yang sama, maka keadaan ini akan menimbulkan efek sinergisme terjadinya wabah penyakit hewan secara luas. 

Sebaliknya bila terjadinya perubahan lingkungan yang justru menyebabkan agen patogen dan vektor menjadi kurang atau tidak berkembang, maka keadaan ini akan menekan kemungkinan munculnya suatu penyakit atau wabah. Oleh karena itu, pemanasan global dan perubahan iklim pada kondisi tertentu dapat mempengaruhi keadaan lingkungan dan kejadian penyakit karena adanya interaksi antara hospes dengan agen patogen dan vektor serta lingkungan (MCMICHAEL danWOODRUFF, 2008). 

Faktor lain yang ikut menentukan kejadian penyakit hewan adalah kepadatan populasi hewan maupun penduduk, tingginya frekuensi lalu lintas manusia (domestik maupun internasional), tingginya populasi vektor, meningkatnya arus perdagangan Internasional, kondisi sosial ekonomi masyarakat yang lemah, meningkatnya deforestasi, terjadinya alih fungsi lahan dan hilangnya biodiversiti (EPSTEIN, 2007; ZELL et al., 2008; GOULD dan HIGGS, 2009).

Keadaan demikian selain berpengaruh terhadap lingkungan secara langsung juga akan meningkatkan terjadinya paparan patogen kepada hospes maupun paparan vektor kepada hospes, sehingga akan meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit hewan.

Sesungguhnya keadaan iklim terkait erat dengan timbulnya gangguan kesehatan karena dapat memicu timbulnya berbagai penyakit infeksi, terutama pada pemanasan yang berkepanjangan dan ketidakstabilan iklim seperti cuaca yang ekstrim. Keadaan iklim seperti ini dapat memicu munculnya atau kemunculan kembali penyakit infeksius global (NICHOLLS, 1993; EPSTEIN, 1999;2001). 

Bagan penularan penyakit hewan dan zoonosis 

(Sumber: MCMICHAEL danWOODRUFF (2008) dimodifikasi WARTAZOA Vol. 21 No. 1 Th. 2011)

Pengaruh perubahan iklim terhadap kejadian penyakit hewan juga dapat terjadi secaratidak langsung misalnya, terjadinya banjir sehingga agen penyakit terbawa aliran banjir ke lokasi lain atau vektor penyakit yang juga sebagai reservoar menyebar ke berbagai lokasi lain atau pemukiman lain. Hal ini dapat menimbulkan wabah seperti penyakit leptospirosis pada manusia dimana tikus yang bertindak sebagai reservoar, bakteri Leptospira spp. 

Akan tersebar ke pemukiman/daerah lain melalui urin tikus dan dapat menginfeksi manusia atau hewan lain sehingga terjadi wabah penyakit leptospirosis (KUSMIYATI et al., 2005). Beberapa penyakit yang diperantarai oleh nyamuk sebagai vektor biasanya peka terhadap perubahan cuaca (EPSTEIN, 2001;ZELL et al., 2008).

Pengaruh terhada agen Patogen Pada umumnya hampir semua agen infeksius (seperti virus, bakteria, parasiter) perkembangannya dapat dipengaruhi oleh keadaan iklim setempat, terutama yang paling peka pada saat agen patogen tersebut menjalani siklus hidupnya di luar hospes utamanya (MCMICHAEL danWOONDRUFF, 2008).

PATZ et al. (1998) mengemukakan bahwa suhu yang lebih tinggi dapat mempercepat masa perbanyakan suatu agen patogen dalam kelenjar liur nyamuk, sehingga nyamuk menjadi lebih infektif dan dapat meningkatkan penularan. Kuman Salmonella spp. juga akan berkembang lebih cepat pada suhu yang lebih panas.

Demikian juga dengan bakteri Vibrio cholerajuga akan lebih berkembangbiak pada air yang lebih hangat yang terdapat di danau, muara dan pantai (WILLCOX dan COWELL, 2005), namun tidak semua organisme akan memberikan respon yang sama terhadap perubahan iklim (SLENNING, 2010).

Pengaruh terhadap vektor Perubahan iklim yang terkait dengan faktor cuaca, curah hujan, suhu dan kelembaban dapat mempengaruhi dinamika biologi dan populasi dari vektor berupa nyamuk yang sebagian siklus hidupnya berhabitat di dalam air. Suhu yang sangat ekstrim akan mengurangi populasi nyamuk, misalnya larva Culex annulirostris akan mati pada suhu di bawah 10oC dan di atas 40oC (MCMICHAEL dan WOODRUFF, 2008). 

Tetapi pada suhu yang meningkat sampai batas tertentu dapat mengurangi waktu yang diperlukan untuk pengembangan larva, sehingga akan lebih banyak generasi nyamuk yang dihasilkan pada satuan waktu yang sama. Dalam hal ini Culex annulirostris umumnya memerlukan waktu 12 – 13 hari dari periode telur sampai dengan dewasa pada suhu 25oC, tetapi pada suhu 30oC hanya memerlukan waktu 9 hari dari telur sampai dengan dewasa (KAY dan AASKOV, 1989). 

Populasi serangga Culicoides spp. sebagai vektor virus Arbo akan meningkat pada awal dan akhir musim hujan. Hal ini berdampak pada peningkatan kasus infeksi virus Arbo pada ternak (SENDOW, 2006).

Dengan demikian perubahan suhu, curah hujan dan kelembaban dapat mempengaruhi jarak generasi, kepadatan populasi dan dinamika biologik berbagai vektor (seperti nyamuk, caplak, siput air). Pada penyakit yang penularannya memerlukan vektor seperti ini, maka vektor ini merupakan titik kritis yang menentukan terjadinya penularan penyakit.

Pengaruh terhadap hospes utama Pemanasan global dan perubahan iklim dapat berpengaruh langsung kepada spesies hewan sebagai hospes utama, antara lain timbulnya stres sehingga hewan menjadi peka terhadap infeksi suatu agen patogen, sehingga akan muncul gejala penyakit.

Pengaruh langsung juga dapat terjadi pada hospes utama berupa burung yang biasa bermigrasi karena mengikuti musim. Pada perubahan iklim maka migrasi dapat dipercepat atau diperlambat sehingga apabila burung tersebut telah terinfeksi misalnya virus West Nile maka virus ini akan ikut menyebar ke lokasi baru.

Demikian juga dengan unggas lain yang bermigrasi dan membawa agen patogen seperti virus H5N1 dalam tubuhnya sebagai reservoar, dapat menularkan penyakit avian influenza (AI) di lokasi yang baru (GILBERT et al., 2006). Hal yang sama juga dapat terjadi pada kalong yang pindah lokasi karena gangguan habitat lingkungannya dengan membawa serta virus Nipah dalam tubuhnya yang berperan sebagai reservoar (AZIZ et al., 1999;CHUAet al., 2000a;FIELD et al.,2007).

Kesimpulan dari uraian yang telah dikemukakan ini dapat disimpulkan bahwa terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim, paling tidak terdapat 5 (lima) penyakit hewan menular strategis (PHMS) yang perlu diwaspadai dapat muncul dan mewabah di Indonesia, yaitu bluetongue, Nipah, Japanese encephalitis, West NiledanRift Valley fever. 

Hal ini dikarenakan tiga dari lima PHMS tersebut (BT, JE dan Nipah) baik agen patogen, vektor dan hospesnya sudah terdapat di Indonesia, sehingga dikhawatirkan bahwa perubahan iklim dan perubahan ekologi yang terjadi akan memicu munculnya penyakit tersebut.

Sedangkan dua PHMS lainnya (WN dan RVF) yang sudah menyebar di berbagai negara juga mempunyai peluang masuk ke Indonesia melalui migrasi burung atau perdagangan komoditas ternak internasional maupun transportasi global dari negara tertular, dimana vektor dari kedua penyakit tersebut diduga terdapat di Indonesia. 

Selain itu tiga (3) penyakit lainnya (avian influenza H5N1, anthrax dan leptospirosis) yang memang sudah ada di Indonesia dapat diperkirakan juga akan sering muncul seiring dengan terjadinya perubahan iklim terutama pada musim hujan yang berkepanjangan.

Pada kesempatan ini diperlukan membangun program surveilans terhadap berbagai penyakit hewan yang mempunyai kemungkinan untuk masuk ke Indonesia, juga harus dikuasai teknik deteksi agen patogen maupun uji serologi terhadap antibodi dari agen patogen tersebut secara dini.

Dengan demikian pencegahan dapat dilakukan apabila deteksi dini dapat dilakukan. Untuk mengantisipasi munculnya penyakit tersebut di atas, maka pemerintah perlu memperkuat perkarantinaan hewan nasional di pelabuhan atau pintu masuk bagi kegiatan ekspor – impor dan juga memperkuat sistem pelayanan kesehatan hewan nasional sehingga kemampuan mengenal penyakit dan memberikan respon cepat secara dini dapat dilakukan.

Sumber:
Mewaspadai Munculnya Beberapa Penyakit Hewan Menular Strategis Di Indonesia Terkait Dengan Pemanasan Global Dan Perubahan Iklim
Sjamsul Bahru, T. Syafriati, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan
Foto: Pexels.com